Radikal bebas merupakan molekul reaktif yang memiliki elektron tidak berpasangan dan dapat
memicu reaksi oksidasi berantai yang berpotensi merusak biomolekul seperti lipid, protein, dan
DNA, sehingga berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif. Senyawa antioksidan
diperlukan untuk menetralkan radikal bebas dengan cara mendonorkan elektron dan menghambat
reaksi oksidatif. Salah satu sumber antioksidan alami adalah daun kelor (Moringa oleifera) yang
diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Efisiensi ekstraksi senyawa bioaktif sangat
dipengaruhi oleh kondisi ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
kondisi optimum ekstraksi daun kelor menggunakan metode maserasi dan pengepresan serta
mengidentifikasi senyawa flavonoid pada ekstrak optimum. Optimasi dilakukan menggunakan
Response Surface Methodology dengan desain Box-Behnken yang melibatkan tiga variabel, yaitu
waktu ekstraksi (10–40 menit), rasio simplisia-pelarut (1:3–1:10), dan konsentrasi etanol (70–96%).
Parameter respon yang diamati meliputi aktivitas antioksidan metode DPPH, CUPRAC, dan FRAP,
serta kandungan fenol total dan flavonoid total. Aktivitas antioksidan dianalisis menggunakan
spektrofotometri UV-sinar tampak, sedangkan identifikasi flavonoid dilakukan menggunakan
kromatografi cair kinerja tinggi. Kondisi ekstraksi optimum diperoleh pada waktu ekstraksi 25
menit, rasio simplisia-pelarut 1:3, dan konsentrasi etanol 96%. Pada kondisi tersebut diperoleh
kandungan fenol total sebesar 48,749 ± 1,861 mg GAE/g dan flavonoid total sebesar 14,154 ± 0,932
mg QE/g, serta aktivitas antioksidan DPPH, CUPRAC, dan FRAP masing-masing sebesar 21,220 ±
2,730; 40,820 ± 3,180; dan 111,140 ± 3,090 mg AEAC/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
senyawa fenolik dan flavonoid berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan ekstrak daun kelor, dan
analisis KCKT menunjukkan adanya senyawa kuersetin sebesar 11,2 ± 0,43 mg/g dalam ekstrak
optimum.
Perpustakaan Digital ITB