digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Deteksi objek tiga dimensi (3D) multi-modal merupakan komponen penting pada sistem persepsi kendaraan otonom karena bertugas mengklasifikasikan objek dan mengestimasi kotak pembatas 3D yang memuat posisi, dimensi, orientasi, serta skor keyakinan dari kombinasi data kamera dan Light Detection and Ranging (LiDAR). Pendekatan fusi berbasis Bird’s Eye View (BEV), seperti BEVFusion, mampu menyatukan informasi semantik kamera dan struktur geometris LiDAR dalam representasi tampak atas yang konsisten. Namun, model semacam ini umumnya memiliki kebutuhan komputasi, memori, dan latensi inferensi yang tinggi. Kondisi tersebut membatasi penerapannya pada perangkat dengan sumber daya terbatas, misalnya platform edge computing atau sistem komputasi onboard kendaraan otonom. Penelitian ini berangkat dari masalah tersebut dengan mengkaji apakah arsitektur BEVFusion dapat dikompresi melalui model student yang lebih ringan, lalu dipulihkan performanya melalui distilasi pengetahuan bertingkat tanpa menambah beban pada fase inferensi. Metode yang diusulkan menggunakan kerangka teacher–student. Model teacher didefinisikan sebagai BEVFusion standar hasil reproduksi internal, sedangkan dua model student, yaitu Student S dan Student Extra Small (XS), dirancang melalui pengurangan kapasitas backbone kamera, cabang LiDAR, modul fusi, dan backbone BEV. Distilasi pengetahuan diterapkan pada lima komponen: fitur kamera, fitur LiDAR, representasi BEV hasil fusi, relasi pada detection head, dan logit keluaran akhir. Komponen fitur dan relasi menggunakan adaptasi Interchange Transfer-based Knowledge Distillation (itKD), sedangkan distilasi logit menyelaraskan distribusi probabilitas kelas yang dilunakkan. Selain pembobotan statis, penelitian ini mengevaluasi Dynamic Weight Averaging (DWA) untuk menyesuaikan kontribusi setiap loss berdasarkan dinamika konvergensi. Evaluasi dilakukan pada dataset nuScenes dengan metrik akurasi Mean Average Precision (mAP) dan nuScenes Detection Score (NDS), serta metrik efisiensi berupa jumlah parameter, ukuran model, alokasi memori Graphics Processing Unit (GPU), latensi, dan Frames Per Second (FPS). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa kompresi langsung tanpa distilasi menurunkan akurasi secara jelas, terutama pada Student XS. Distilasi fitur pada cabang kamera dan LiDAR memberikan kontribusi pemulihan terbesar. Student S dengan konfigurasi distilasi statis terbaik mencapai mAP 67,16% dan NDS 69,80%, sangat dekat dengan teacher reproduksi yang mencapai mAP 67,36% dan NDS 70,76%. Model ini sekaligus menurunkan parameter dari 40,80 juta menjadi 5,95 juta, sehingga menghasilkan reduksi 6,9× dengan alokasi memori GPU yang lebih rendah. Pada NVIDIA RTX 3090 dengan TensorRT FP16, throughput meningkat dari 55,24 FPS pada teacher menjadi 83,70 FPS pada Student S. Student XS mencapai ukuran yang lebih ringkas, yaitu 3,86 juta parameter, 14,85 MB, dan alokasi memori GPU 731 MB, dengan throughput 97,25 FPS pada RTX 3090 TensorRT FP16. Validasi pada NVIDIA Drive Orin menunjukkan peningkatan throughput dari 13,32 FPS pada teacher menjadi 36,43 FPS pada Student S dan 48,41 FPS pada Student XS. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa manfaat DWA bersifat kondisional. Pada Student S, pembobotan statis lebih stabil dan menghasilkan akurasi terbaik. Pada Student XS, DWA meningkatkan mAP secara marginal terhadap konfigurasi S3, tetapi konfigurasi S2 tetap menjadi pilihan terbaik berdasarkan NDS. Selain itu, evaluasi per kelas memperlihatkan bahwa Student XS mengalami degradasi besar pada kendaraan berukuran besar seperti truck dan bus. Dengan demikian, Student S lebih sesuai sebagai kompromi antara efisiensi dan akurasi, sedangkan Student XS lebih tepat untuk skenario dengan batas komputasi ketat dan toleransi terhadap penurunan akurasi. Seluruh hasil perlu dibaca dalam konteks evaluasi single-run, sehingga klaim peningkatan marginal masih memerlukan validasi statistik melalui pelatihan berulang.