digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Yulio Arian Dharma
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Pertumbuhan kapasitas panas bumi global saat ini lebih didominasi oleh optimasi lapangan eksisting dibandingkan pembangunan lapangan baru, sehingga keberlanjutan reservoir menjadi sama penting dengan penambahan kapasitas. Penurunan tekanan reservoir dipengaruhi oleh manajemen produksi, dan pada reservoir multisektor terintegrasi, alokasi tekanan kepala sumur antarsektor menjadi semakin kompleks. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan membandingkan dua kriteria optimasi alokasi produksi dinamis terhadap umur reservoir yang dicapai, serta mengintegrasikan model reservoir, simulasi performa sumur, dan sistem pembangkit ke dalam satu sistem optimasi yang konsisten. Penelitian menggunakan studi kasus Lapangan Salak/Awibengkok, dengan reservoir dimodelkan sebagai lumped-parameter model dua fasa berupa empat sektor tangki berantai, dengan sektor Central dan East sebagai sektor produksi aktif. Kurva deliverability sumur diperoleh dari simulasi WellSim, sementara sistem permukaan dibangun di MATLAB dan diverifikasi terhadap Aspen HYSYS. Dua skenario optimasi dinamis, yaitu Skenario Minimum Flowrate dan Skenario Minimum Drawdown, dijalankan pada tiap interval melalui dua tahap penyaringan kandidat tekanan kepala sumur hingga masing-masing mencapai kondisi terminasinya sendiri. Hasil simulasi menunjukkan Skenario Minimum Drawdown memperpanjang umur reservoir hingga 13,83 tahun, sekitar 15,3 persen lebih panjang dibandingkan Skenario Minimum Flowrate yang berhenti pada 12 tahun. Minimum Flowrate gagal pada sektor produksi akibat kebijakan alokasinya sendiri, sedangkan Minimum Drawdown gagal pada sektor batas nonproduksi akibat batas fisis validitas dua fasa. Target daya pembangkit terpenuhi pada kedua skenario, menegaskan bahwa integrasi model reservoir, sumur, dan sistem permukaan bekerja andal, dan kegagalan yang membatasi umur reservoir murni bersumber dari batasan fisis reservoir.