Enzim selulase merupakan biokatalis penting dalam berbagai sektor industri, seperti tekstil, bioenergi, pangan, dan pengolahan limbah organik, karena kemampuannya menghidrolisis selulosa menjadi gula sederhana. Namun, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor enzim ini menyebabkan biaya produksi yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya optimalisasi produksi enzim lokal berbasis sumber daya terbarukan. Fermentasi fasa semi-padat (semi-solid state fermentation/SSSF) menjadi alternatif strategis yang menggabungkan keunggulan fermentasi padat dan terendam, serta memungkinkan pemanfaatan limbah lignoselulosa seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai substrat. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi produksi enzim selulase dari kultur campuran Trichoderma reesei dan Aspergillus niger melalui variasi konsentrasi garam mineral, yaitu amonium sulfat ((NH4)2SO4), mangan sulfat (MnSO4 H2O), dan kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4).
Desain eksperimen yang digunakan adalah Box-Behnken Design (BBD), sebuah pendekatan statistik dalam Response Surface Methodology (RSM) yang efisien untuk mengevaluasi interaksi antarvariabel dan menentukan kondisi optimum. Rancangan ini melibatkan tiga variabel bebas yang diuji dalam tiga tingkat konsentrasi, menghasilkan 15 kombinasi perlakuan, termasuk center point untuk mengukur kestabilan sistem. Proses fermentasi berlangsung selama 6 hari pada temperatur ruang dengan rasio solid to liquid 1:20, menggunakan substrat TKKS yang telah di-pretreatment. Kultur jamur dicampurkan dengan perbandingan 2:1 antara T. reesei dan A. niger. Aktivitas enzim selulase dianalisis menggunakan metode DNS dan Filter Paper Assay, sedangkan kandungan protein total diuji dengan metode Bradford. Pendekatan eksperimental ini memungkinkan identifikasi kombinasi kondisi fermentasi yang optimal secara sistematis dan terukur.
Perpustakaan Digital ITB