digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik nasional menempatkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Indonesia untuk beberapa dekade ke depan. Di sisi lain, struktur cadangan batubara nasional didominasi oleh batubara berkalori rendah (Low Rank Coal, LRC), sedangkan sebagian besar PLTU eksisting dirancang untuk membakar batubara berkalori menengah (Medium Rank Coal, MRC) sesuai spesifikasi desain boiler. Ketidaksesuaian antara ketersediaan sumber daya dan spesifikasi desain pembangkit tersebut mendorong perlunya strategi pemanfaatan batubara yang lebih fleksibel dan ekonomis, salah satunya melalui pencampuran batubara (coal blending). Penelitian ini membahas optimalisasi strategi coal blending pada PLTU berkapasitas 300 MW yang dioperasikan oleh PT PLN Indonesia Power, dengan fokus pada penentuan batas komposisi campuran yang masih aman ditinjau dari kapasitas peralatan utama sekaligus memberikan manfaat ekonomi. Metodologi penelitian diawali dengan pembangunan model pembangkit menggunakan perangkat lunak Aspen Hysys V14 dan Aspen Plus. Model disusun berdasarkan data heat balance desain pada beban 100%, 90%, 75%, dan 50%, mencakup sistem pembakaran batubara pada boiler, siklus uap (siklus Rankine), serta perhitungan efisiensi boiler dan kinerja pembangkit. Model selanjutnya melalui tahap model fitting dan divalidasi terhadap data operasi aktual unit sehingga mampu merepresentasikan perilaku pembangkit pada rentang beban operasi. Dengan model tervalidasi tersebut, disusun dua puluh satu skenario pencampuran batubara dengan variasi proporsi LRC dari 0% hingga 100% pada interval 5%. Setiap skenario dievaluasi terhadap parameter laju alir batubara (coal flow), kebutuhan udara pembakaran (combustion air), rasio udara sekunder (Secondary Air Ratio/FDF), efisiensi boiler, efisiensi termal, specific fuel consumption (SFC), Net Plant Heat Rate (NPHR), serta biaya bahan bakar (fuel cost). Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan proporsi batubara kalori rendah dalam campuran secara konsisten menaikkan kebutuhan laju alir batubara dan udara pembakaran, karena kandungan energi per satuan massa bahan bakar yang lebih rendah menuntut jumlah batubara yang lebih banyak untuk menghasilkan daya keluaran yang sama. Pada beban 300 MW, efisiensi boiler turun dari 88,79% menjadi 84,60% dan efisiensi termal turun dari 39,12% menjadi 37,28%, sedangkan specific fuel consumption meningkat hingga 55,66% seiring naiknya nilai NPHR. Sebaliknya, biaya bahan bakar menurun secara signifikan karena harga batubara kalori rendah yang lebih murah, sehingga strategi blending menghadirkan pertukaran (trade-off) antara penurunan efisiensi termal dan penghematan biaya bahan bakar. Peningkatan kebutuhan batubara tersebut juga berpotensi menimbulkan batasan operasional pada sistem penggilingan batubara (coal mill), sehingga diperlukan pengaturan pola operasi tambahan seperti pengaktifan mill cadangan. Berdasarkan analisis batasan parameter operasi dan pertimbangan ekonomi, komposisi blending optimum pada beban penuh 300 MW adalah 31,25% LRC dan 68,75% MRC, dengan Secondary Air Ratio (FDF) sebagai parameter pembatas yang paling ketat. Pada kondisi beban parsial, batas komposisi LRC bervariasi antara 30,95% pada beban 225 MW hingga 38,16% pada beban 150 MW. Penambahan jumlah mill yang dioperasikan dapat memperlebar batas komposisi LRC ditinjau dari sisi coal flow hingga sekitar 99,19% pada beban 300 MW, namun batasan Secondary Air Ratio tidak dipengaruhi oleh jumlah mill sehingga tetap menjadi penentu batas aman operasi. Dengan demikian, penerapan komposisi blending pada batas tersebut mampu menjaga parameter operasi utama dalam kapasitas peralatan, memberikan penghematan biaya bahan bakar yang signifikan tanpa penurunan efisiensi yang drastis, serta mendukung pemanfaatan cadangan batubara kalori rendah nasional secara lebih optimal.