digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tren penurunan produksi perikanan Indonesia pada periode 2017-2023. Output nasional pada tahun 2023 hanya mencapai 24,7 ton, jauh di bawah target tahunan sebesar 30,37 juta ton. Selisih capaian tersebut dikaitkan dengan lemahnya system manajemen, tingginya biaya produksi, infrastruktur yang belum memadai, serta kondisi iklim yang semakin tidak menentu yang dapat mengancam keberlanjutan jangka panjang produksi udang vaname. Sebagai sub-sektor akuakultur yang strategis, budidaya udang vaname terus menghadapi tantangan operasional dan rantai pasok yang siginifikan khususnya pada Tingkat usaha kecil dan menengah (UKM). Permasalahan yang berulang mencakup ketidakpastian jadwal kedatangan benur, perencanaan produksi yang belum optimal, penggunaan listrik yang tidak efisien, proses pascapanen yang belum terstandar, serta lemahnya managejemen persediaan. Kondisi ini berujung pada kapasitas kolam yang tidak dimanfaatkan, pemborosan material, meningkatkan biaya operasional dan menurunnya profitabilitas. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi dimensi operasional dan rantai pasok budidaya udang vaname skala UKM melalui kerangka SCOR guna merumuskan strategi perbaikan yang tepat sasaran. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus jamak kualitatif (Yin, 2018) yang berlandaskan penelitian interpretivis serta memanfaatkan wawancara semi-terstruktur dengan pakar, dokumentasi sekunder dan observasi lapangan langsung. Data diinterpretasikan menggunakan analisis tematik 6 fase dari Braun dan Clarke (2006) dengan tema yang dihasilkan dipetakan ke dalam proses SCOR yaitu Plan,Source,Make,Deliver,Return dan Enable. Kinerja setiap tambak kemudian dinilai menggunakan rubrik 4 poin pada 5 atribut SCOR, reabilitas, responsivitas, kelincahan, biaya, dan manajemen asset dengan rujukan FAO, KKP, dan, Boys sebagai pembanding (Benchmark). Sementara FMEA (RPN= S x O x D) digunakan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan mode kegagalan utama. Analisis lintas kasus mengungkap kelemahan yang konvergen, praktik divergen dan akar penyebab. Sehingga dirumuskan serangkaian rekomendasi terintegrasi untuk jangka pendek, menengah dan Panjang