2023 SK PP Farrell Justin Wismanto [19020268] - Full Text.pdf
PUBLIC Open In Flipbook Abdul Aziz Ariarasa
PT TBS Energi Utama Tbk merupakan salah satu perusahaan tambang batubara di Indonesia yang berencana masuk ke industri energi terbarukan, sekaligus membangun ekosistem kendaraan listrik. Perusahaan membutuhkan USD 500.000.000 untuk mendukung rencana ekspansi ini, yang sumbernya belum ditentukan. Struktur modal saat ini terdiri dari 54,22% utang dan 45,78% ekuitas, mempresentasikan rasio utang terhadap ekuitas 118,44%. Rasio ini sangat kontras dengan rata-rata industri batubara dan energi terbarukan di Indonesia yang masing-masing bernilai 22,03% dan 78,36%. Oleh karena itu, sebelum memilih sumber pendanaan untuk proyek-proyek tersebut, penting untuk memeriksa apakah struktur modal saat ini sudah optimal, mengingat bahwa rata-rata industri seringkali dipertimbangkan dalam menargetkan struktur modal perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cost of Capital dalam menganalisis struktur modal yang optimal, yang dapat diketahui dengan mengidentifikasi biaya modal (cost of capital) terendah pada setiap tingkat utang dengan menggunakan rumus Weighted Average Cost of Capital (WACC). Untuk mensimulasikan biaya modal, penelitian ini menggunakan Damodaran Synthetic Rating untuk memperkirakan biaya utang (cost of debt) dan Capital Asset Pricing Model (CAPM) untuk memperkirakan biaya ekuitas (cost of equity). Berdasarkan perhitungan, struktur modal saat ini sudah optimal karena biaya modal saat ini lebih rendah daripada di semua tingkat utang. Oleh karena itu, strategi pembiayaan yang tepat adalah menerapkan struktur modal saat ini ke jumlah investasi yang diperlukan, berujung pada utang yang ditingkatkan sebesar USD 271.107.056 dan ekuitas yang ditingkatkan sebesar USD 228.892.944. Selain itu, adalah wajar untuk struktur permodalan PT TBS Energi Utama Tbk berbeda secara signifikan dari rata-rata industri di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB