digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Maria Lourdes Luntungan
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Chromolaena odorata adalah tumbuhan asing invasif dari famili Asteraceae di kawasan padang rumput dan area-area terbuka di Cagar Alam Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran (CA/TWAPP). Tumbuhan ini selain mengubah dominansi komunitas tumbuhan di padang rumput, juga memberikan dampak negatif bagi hewan herbivora terutama rusa dan banteng karena mengurangi habitat dan menurunkan kualitas pakannya. Kolonisasi masif C. odorata di area ini memerlukan penanganan, selain secara mekanik juga mendatangkan biokontrol lalat Cecidochares connexa pada tahun 1995. Infeksi lalat ini pada C. odorata membentuk gall pada setiap nodus untuk mengurangi produksi perbungaan sehingga dapat menurunkan populasinya. Hingga saat ini populasi C. odorata di CA/TWAPP masih ditemukan dengan penyebaran semakin luas sehingga monitoring keberadaan lalat C. connexa perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi peranan ekologis agen biokontrol ini dan juga melihat persebaran terkini tumbuhan C. odorata di CA/TWAPP. Sebanyak tiga tapak penelitian (Padang Rumput Cikamal, Nanggorak, dan area Penginapan Rengganis) dipilih sebagai lokasi penelitian. Belt transect diletakan di setiap tapak penelitian dengan panjang bervariasi dari 20 – 155 m. Plot berukuran 5×5 m dalam transek garis tersebut dibuat untuk menghitung individu C. odorata, kemudian subplot 2x2 m (total 134 plot) diletakkan untuk mencatat jumlah individu yang terinfeksi. Larva lalat yang ditemukan dalam puru (gall) dipelihara untuk mengkonfirmasi keberadaan lalat C. connexa, kemudian informasi morfologi lalat diamati dan dicatat untuk identifikasi. Uji Kruskal-Wallis antar tapak dan korelasi Rank Spearman dilakukan antar variabel kepadatan C. odorata dan jumlah individu terinfeksi. Jumlah individu tertinggi C. odorata ditemukan di Rengganis (3,7 ind/m²), disusul Cikamal (1,08 ind/m²), dan terendah di Nanggorak (0,7 ind/m²), namun jumlah individu yang terinfeksi menunjukkan pola yang berbeda dimana persentase infeksi tertinggi ditemukan di Nanggorak (37,4%), Rengganis (30,4%), dan Cikamal (13,8%). Populasi C. odorata yang terkonsentrasi di area Nanggorak dan Rengganis menunjukkan tingkat infeksi yang tinggi dengan angka infeksi sebesar 37,4% dan 30,4% dibandingkan dengan Cikamal (13,8%). Nanggorak secara alami mengalami suksesi menjadi hutan dataran rendah dan hutan jati karena proses pemencaran jati secara alami di area ini sehingga area terbuka lebih sempit dibandingkan dengan Rengganis. Cikamal merupakan padang rumput terluas di CA/TWAPP sebagai area merumput untuk banteng dan rusa sehingga pengelolaan lebih rutin dilakukan. Hasil rearing larva lalat terkonfirmasi bahwa larva yang menginfeksi C. odorata adalah C. connexa yang masih berperan sebagai agen biokontrol spesifik untuk populasi C. odorata di CA/TWA Pananjung Pangandaran.