Hingga kini, minyak dan gas bumi (hidrokarbon) masih merupakan sumber utama
untuk memenuhi kebutuhan energi dunia. Hidrokarbon, menurut asalnya, dapat
dikategorikan sebagai sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan
dunia akan sumber energi ini terus bertambah, sedangkan cadangan hidrokarbon
yang ada terus menurun. Untuk mengantisipasi adanya krisis energi, kegiatan
eksplorasi hidrokarbon terus dilakukan terutama di daerah frontier maupun pada
daerah lama (yang telah dieksplorasi sebelumnya) yang kembali dilihat dengan
menggunakan konsep yang baru.
Lapangan Stupa, yang ditemukan pada tahun 1996, merupakan suatu contoh
penemuan yang didapatkan dengan menerapkan konsep baru (hidrodinamisme)
pada daerah yang sudah dieksplorasi sebelumnya. Struktur ini pertama kali
dipenetrasi pada puncaknya oleh Sumur Telakai-1 (1980) yang hanya menjumpai
reservoir batupasir berisi air yang bertekanan tinggi. Penemuan lapangan ini
sendiri ditandai oleh hasil pemboran Sumur Stupa-1-ST2, yang dibor pada sayap
utara Lapangan Stupa, sekitar 7 km utara Sumur Telakai-1. Penemuan ini diikuti
oleh pemboran 5 sumur deliniasi (Stupa-2, Stupa-3, Stupa-4, Stupa-5 dan West
Stupa-1) pada masa 1990-an akhir hingga 2000-an awal. Meskipun demikian,
kegiatan pemboran ekplorasi/deliniasi yang telah dilakukan masih belum dapat
mendefinisikan batas penyebaran hidrokarbon yang jelas pada Lapangan Stupa.
Penelitian ini mempunyai target untuk membuat suatu model geologi yang
mencerminkan penyebaran hidrokarbon di Lapangan Stupa pada Level Sepinggan
Deltaic Sequence (SDS) berdasarkan integrasi dan sintesis dari berbagai macam
data dan literatur yang ada dengan menggunakan berbagai pendekatan konsep
geologi (termasuk hidrodinamisme). Diharapkan, hasil dari pemodelan geologi
tersebut akan digunakan untuk mengkuantifikasi upside potential (jika ada) di luar
batas-batas Lapangan Stupa yang didefinisikan saat ini Untuk mengkuantifikasi dampak dari hidrodinamisme pada Lapangan Stupa,
pemodelan penyebaran hidrokarbon dalam kondisi kontak fluida hidrokarbon dan non-hidrokarbon yang tidak horizontal harus dilakukan. Dalam penelitian ini,
penulis menggunakan metoda pembuatan U Map. Metoda ini menganggap bahwa
perbedaan ketinggian (kemiringan) posisi kontak antara hidrokarbon dan nonhidrokarbon
(dalam kasus Lapangan Stupa adalah kontak antara air dengan gas;
GWC) di suatu titik dengan titik lainnya akan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu
perbedaan tekanan dan perbedaan densitas antara hidrokarbon dan air (buoyancy).
Selanjutnya, pendefinisian kontak fluida (GWC) dilakukan dengan mencari
perpotongan antara peta struktur kedalaman dengan peta isopotential (isopressure
diekpresikan dalam bentuk water head). Karena dalam kenyataannya, kontak
fluida (GWC) berbentuk miring, untuk memudahkan pendefinisian closure,
dibuatlah suatu peta pseudo-struktur (U Map) yang pada prinsipnya
menghorisontalkan bidang kontak fluida yang miring pada kenyataannya. Dalam
aplikasinya, pendefinisian closure dilakukan dengan memastikan kemunculan
hidrokarbon terluar dari data sumuran masih berada di dalam area yang
didefinisikan oleh suatu nilai kontur U Map.
Pemodelan dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Petrel.
Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam membuat model geologi ini mengikuti
workflow yang tersedia dalam perangkat lunak tersebut, yaitu pembuatan model
struktur, pembuatan model kontak fluida, pembuatan model fasies dan pembuatan
model petrofisika. Dikarenakan adanya unsur ketidakpatian dalam setiap
parameter yang dimodelkan, maka tahapan analisis ketidakpastian dilakukan
setelah langkah-langkah yang disebutkan diatas selesai dilaksanakan. Hasil dari
analisis ketidakpastian menunjukkan bahwa parameter yang paling berpengaruh
terhadap hasil perhitungan volumetrik adalah penyebaran nilai saturasi air.
Sedangkan hasil perhitungan volumetrik sendiri mengindikasikan masih adanya
upside potential diluar batas Lapangan Stupa yang dipercayai selama ini (terutama
di daerah utara dari Lapangan Stupa).
Perpustakaan Digital ITB