digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

DAFTAR ISI Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

BAB 1 Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

BAB 2 Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

BAB 3 Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

BAB 4 Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

BAB 5 Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

DAFTAR PUSTAKA Wahyudi Susanto
PUBLIC Open In Flipbook Ida Yayuk Purnamasari

Hingga kini, minyak dan gas bumi (hidrokarbon) masih merupakan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan energi dunia. Hidrokarbon, menurut asalnya, dapat dikategorikan sebagai sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan dunia akan sumber energi ini terus bertambah, sedangkan cadangan hidrokarbon yang ada terus menurun. Untuk mengantisipasi adanya krisis energi, kegiatan eksplorasi hidrokarbon terus dilakukan terutama di daerah frontier maupun pada daerah lama (yang telah dieksplorasi sebelumnya) yang kembali dilihat dengan menggunakan konsep yang baru. Lapangan Stupa, yang ditemukan pada tahun 1996, merupakan suatu contoh penemuan yang didapatkan dengan menerapkan konsep baru (hidrodinamisme) pada daerah yang sudah dieksplorasi sebelumnya. Struktur ini pertama kali dipenetrasi pada puncaknya oleh Sumur Telakai-1 (1980) yang hanya menjumpai reservoir batupasir berisi air yang bertekanan tinggi. Penemuan lapangan ini sendiri ditandai oleh hasil pemboran Sumur Stupa-1-ST2, yang dibor pada sayap utara Lapangan Stupa, sekitar 7 km utara Sumur Telakai-1. Penemuan ini diikuti oleh pemboran 5 sumur deliniasi (Stupa-2, Stupa-3, Stupa-4, Stupa-5 dan West Stupa-1) pada masa 1990-an akhir hingga 2000-an awal. Meskipun demikian, kegiatan pemboran ekplorasi/deliniasi yang telah dilakukan masih belum dapat mendefinisikan batas penyebaran hidrokarbon yang jelas pada Lapangan Stupa. Penelitian ini mempunyai target untuk membuat suatu model geologi yang mencerminkan penyebaran hidrokarbon di Lapangan Stupa pada Level Sepinggan Deltaic Sequence (SDS) berdasarkan integrasi dan sintesis dari berbagai macam data dan literatur yang ada dengan menggunakan berbagai pendekatan konsep geologi (termasuk hidrodinamisme). Diharapkan, hasil dari pemodelan geologi tersebut akan digunakan untuk mengkuantifikasi upside potential (jika ada) di luar batas-batas Lapangan Stupa yang didefinisikan saat ini Untuk mengkuantifikasi dampak dari hidrodinamisme pada Lapangan Stupa, pemodelan penyebaran hidrokarbon dalam kondisi kontak fluida hidrokarbon dan non-hidrokarbon yang tidak horizontal harus dilakukan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metoda pembuatan U Map. Metoda ini menganggap bahwa perbedaan ketinggian (kemiringan) posisi kontak antara hidrokarbon dan nonhidrokarbon (dalam kasus Lapangan Stupa adalah kontak antara air dengan gas; GWC) di suatu titik dengan titik lainnya akan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu perbedaan tekanan dan perbedaan densitas antara hidrokarbon dan air (buoyancy). Selanjutnya, pendefinisian kontak fluida (GWC) dilakukan dengan mencari perpotongan antara peta struktur kedalaman dengan peta isopotential (isopressure diekpresikan dalam bentuk water head). Karena dalam kenyataannya, kontak fluida (GWC) berbentuk miring, untuk memudahkan pendefinisian closure, dibuatlah suatu peta pseudo-struktur (U Map) yang pada prinsipnya menghorisontalkan bidang kontak fluida yang miring pada kenyataannya. Dalam aplikasinya, pendefinisian closure dilakukan dengan memastikan kemunculan hidrokarbon terluar dari data sumuran masih berada di dalam area yang didefinisikan oleh suatu nilai kontur U Map. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Petrel. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam membuat model geologi ini mengikuti workflow yang tersedia dalam perangkat lunak tersebut, yaitu pembuatan model struktur, pembuatan model kontak fluida, pembuatan model fasies dan pembuatan model petrofisika. Dikarenakan adanya unsur ketidakpatian dalam setiap parameter yang dimodelkan, maka tahapan analisis ketidakpastian dilakukan setelah langkah-langkah yang disebutkan diatas selesai dilaksanakan. Hasil dari analisis ketidakpastian menunjukkan bahwa parameter yang paling berpengaruh terhadap hasil perhitungan volumetrik adalah penyebaran nilai saturasi air. Sedangkan hasil perhitungan volumetrik sendiri mengindikasikan masih adanya upside potential diluar batas Lapangan Stupa yang dipercayai selama ini (terutama di daerah utara dari Lapangan Stupa).