digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 FATHIMAH AZ ZAHRA ABSTRAK
Terbatas Dwi Ary Fuziastuti
» ITB

Buy Now Pay Later (PayLater) merupakan skema pembayaran alternatif yang memungkinkan konsumen memperoleh barang atau jasa terlebih dahulu dan melunasi pembayarannya secara bertahap melalui skema angsuran, tanpa mensyaratkan kepemilikan kartu kredit. Kemudahan akses ini mendorong pertumbuhan pesat adopsi layanan PayLater di Indonesia, yang turut dipercepat oleh peran influencer dalam mengenalkan dan mempromosikan layanan tersebut kepada konsumen digital. Pertumbuhan yang masif ini memerlukan pemahaman kuantitatif terhadap dinamika perilaku konsumen dan risiko sistemik yang menyertainya, sehingga penelitian mengenai pola adopsi PayLater beserta strategi pengendaliannya menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini mengembangkan model matematika berbasis sistem dinamik kompartemen untuk menganalisis pengaruh PayLater dan peran influencer dalam mempercepat adopsi layanan, serta merumuskan strategi pengendalian optimal. Model dibangun secara bertahap melalui dua tahap. Model pertama adalah model dasar (model MGS) yang terdiri atas tiga kompartemen dan merepresentasikan interaksi antara konsumen dan layanan PayLater, dengan variabel kontrol utama berupa proporsi pembayaran tunai. Model kedua merupakan pengembangan dari model pertama, yaitu model MGSPX yang terdiri atas lima kompartemen dan secara eksplisit mengintegrasikan pengaruh promosi influencer, dengan variabel kontrol tambahan berupa proporsi anggaran iklan melalui influencer. Masing-masing model dianalisis melalui analisis titik kesetimbangan, kestabilan lokal, dan nilai ambang batas yang dinamakan Paylater Reproduction Number (R0 untuk model MGS dan R? 0 untuk model MGSPX), yaitu rata-rata jumlah pengguna baru yang berhasil didapatkan oleh satu individu pengguna PayLater selama masa penggunaan aktifnya. Hasil analisis kestabilan dan sensitivitas menunjukkan bahwa sistem dapat mencapai kondisi stabil dengan penyebaran apabila nilai Paylater Reproduction Number berada di atas satu. Analisis sensitivitas lebih lanjut mengidentifikasi bahwa laju masuk minat dan laju transmisi merupakan pendorong utama penyebaran, sehingga intervensi pada fase konsumen berminat lebih efektif dibandingkan pada fase pengguna aktif atau pasca-pelunasan. Penyelesaian masalah kontrol optimal menggunakan Prinsip Minimum Pontryagin mengungkap adanya kompromi antara ketepatan pengendalian dan efisiensi biaya pada kedua model. Pada model MGS, kontrol proporsi pembayaran tunai terbukti menjadi mekanisme dominan dalam menekan ketidakseimbangan populasi antara peminat dan pengguna aktif PayLater. Pada model MGSPX, kontrol proporsi pembayaran tunai tetap menjadi mekanisme utama, sementara kontribusi kontrol proporsi anggaran iklan melalui influencer tergolong minimal terhadap penurunan ketidakseimbangan populasi. Penelitian ini pada akhirnya memberikan landasan kuantitatif yang kuat bagi perumusan kebijakan untuk menjaga keseimbangan antara calon konsumen dan pengguna aktif PayLater, baik pada kondisi interaksi konsumen dengan layanan semata maupun pada kondisi yang melibatkan pengaruh promosi influencer.