Sampah makanan merupakan salah satu kontributor utama perubahan iklim di
Indonesia, yang menimbulkan ancaman signifikan terhadap keberlanjutan global.
Sampah makanan di tempat pembuangan akhir berkontribusi terhadap emisi
metana lebih banyak dibandingkan material lain yang dibuang di tempat
pembuangan akhir karena pembusukannya yang cepat. Salah satu masalah ini
terjadi di wilayah Bandung, di mana tragedi kemanusiaan akibat ledakan sampah
dan longsor terjadi 20 tahun lalu, yang menyebabkan masalah sampah yang parah.
Masalah serupa kini terjadi lagi. Data terbaru menunjukkan bahwa tempat
pembuangan sampah akhir di wilayah Bandung telah mencapai 1200% dari
kapasitasnya, dengan sekitar 45% dari total sampah didominasi oleh sampah
makanan. Sebagai respons terhadap situasi ini, studi ini mensimulasikan masalah
sampah makanan di wilayah Bandung, khususnya di restoran prasmanan untuk
mengidentifikasi mekanisme di balik masalah sampah dan menemukan solusinya.
Studi ini mengusulkan Agent-Based Modelling sebagai alat untuk menjelaskan
masalah limbah makanan di Bandung, Indonesia dan bagaimana cara
menguranginya, yang dibentuk oleh berbagai skenario. Simulasi kami
menunjukkan bahwa penerapan kebijakan baru dapat mengurangi jumlah limbah
makanan yang dihasilkan oleh restoran tersebut. Instrumen yang paling efektif
adalah gabungan antara kebijakan pemberian hadiah dan denda.
Kata kunci: Agent-Based Model, Prasmanan, Sampah Makanan, Kebijakan,
Simulasi
Perpustakaan Digital ITB