Pada saat yang bersamaan, industri batubara global mencatat permintaan
tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025, sementara para produsen Indonesia
menghadapi tekanan akibat penurunan harga batubara pada pasar acuan. Dalam
kondisi ini, kemampuan operasi pertambangan batubara terbuka untuk beroperasi
secara efisien menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan operasi
yang menguntungkan. Sepanjang tahun anggaran 2025, PT Mining Contractor
mencatat kinerja produksi di bawah target pada Site X4. Realisasi produksi
overburden tercatat sebesar 76.326.326 bank cubic meter, sementara target yang
direncanakan adalah 98.494.361 bank cubic meter, sehingga terdapat selisih
sebesar 22.168.035 bank cubic meter dari target dan estimasi pendapatan yang
tidak terealisasi sebesar USD 58.966.973. Selisih ini terutama disebabkan oleh
inefisiensi operasional yang menghambat pencapaian target Jam Kerja Efektif.
Penelitian ini menerapkan kerangka Lean Six Sigma Define-Measure-Analyze
untuk mengidentifikasi akar penyebab dan menyusun rencana perbaikan yang
terprioritasi. Analisis Pareto, analisis word cloud, dan Focus Group Discussion
(FGD) bersama pemangku kepentingan utama digunakan untuk menganalisis data
Fleet Management System. Ditemukan delapan Undesirable Effects pada tiga
subsistem operasional. Kedelapan inisiatif perbaikan tersebut dikonsolidasikan
menjadi empat skenario implementasi dan diprioritaskan menggunakan Analytical
Hierarchy Process. Penilaian risiko pra-implementasi dilakukan dan
mengidentifikasi 15 risiko yang dapat dikelola. Dengan asumsi yang paling
konservatif, implementasi ini diproyeksikan dapat memulihkan 8.428.226 bank
cubic meter dan USD 22.427.510, setara dengan 38 persen dari kerugian peluang
pada tahun anggaran 2025.
Perpustakaan Digital ITB