Seiring Indonesia bergerak menuju masa depan rendah karbon, perusahaan pertambangan mengubah cara mereka menggunakan energi. Studi ini berfokus pada area pertambangan batubara utama di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, di mana kendaraan bertenaga diesel masih banyak digunakan. Dengan menggunakan RETScreen Expert, studi ini meneliti kepraktisan dan efektivitas biaya peralihan ke kendaraan listrik di Indonesia. Temuan menunjukkan manfaat lingkungan yang substansial: emisi tahunan dapat turun dari 10,53 juta tCO2e menjadi 4,89 juta tCO2e, pengurangan sekitar 53,5%. Namun, elektrifikasi akan meningkatkan penggunaan listrik tambang menjadi hampir 900 juta kWh per tahun dan membutuhkan investasi awal yang signifikan sekitar USD 484 juta. Proyek ini diperkirakan memiliki tingkat pengembalian internal (IRR) ekuitas sebelum pajak sebesar 12% dan periode pengembalian modal selama 13,1 tahun. Analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa hasilnya sangat bergantung pada harga diesel, tarif listrik, dan biaya modal. Studi ini menyoroti pertimbangan yang jelas: elektrifikasi menawarkan manfaat lingkungan yang stabil, tetapi keberhasilan finansialnya bergantung pada biaya dan dukungan kebijakan. Seiring Indonesia mengejar tujuan emisi nol bersih, hasil ini menggarisbawahi perlunya insentif strategis dan opsi pembiayaan tambahan untuk membantu perusahaan pertambangan mengadopsi teknologi yang lebih bersih.
Perpustakaan Digital ITB