On-the-Job Training (OJT) merupakan salah satu mekanisme utama dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja, khususnya pada organisasi manufaktur yang beroperasi dalam lingkungan dengan tuntutan keselamatan, kualitas, dan kepatuhan yang tinggi. Meskipun banyak organisasi telah memiliki sistem OJT yang terstruktur, permasalahan sering muncul pada tahap implementasi, seperti ketidaksesuaian antara desain pelatihan dan kondisi operasional di lapangan, inkonsistensi dalam proses evaluasi, serta variasi kualitas pembelajaran yang diterima oleh peserta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sistem OJT yang diterapkan pada sebuah organisasi manufaktur dengan meninjau bagaimana program tersebut dirancang, dijalankan, dan dialami oleh para pemangku kepentingan utama.
Latar belakang penelitian ini didasarkan pada temuan berbagai isu operasional yang berkaitan dengan pelatihan, antara lain permasalahan kualitas produk, kejadian near-miss keselamatan, serta ketidakkonsistenan proses kerja. Isu-isu tersebut mengindikasikan adanya potensi kesenjangan antara prosedur pelatihan formal yang telah ditetapkan dengan praktik aktual di shopfloor. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi sistem OJT yang tidak hanya berfokus pada kepatuhan terhadap prosedur, tetapi juga memahami dinamika implementasi dan pengalaman pembelajaran di lapangan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengintegrasikan data primer dan data sekunder untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga kelompok responden utama, yaitu personel Human Resources, trainer/mentor, dan peserta OJT. Data wawancara dianalisis menggunakan metode Gioia untuk menghasilkan first-order concepts, second-order themes, dan aggregate dimensions yang merepresentasikan perspektif informan serta interpretasi peneliti. Sementara itu, data sekunder berupa standar operasional prosedur, kurikulum pelatihan, dashboard internal, dan dokumen pendukung lainnya dianalisis menggunakan content analysis. Selanjutnya, dilakukan triangulasi metodologis untuk membandingkan dan mengintegrasikan temuan dari data primer dan sekunder guna meningkatkan validitas dan kredibilitas hasil penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem OJT secara struktural telah dirancang dengan baik, ditandai dengan tahapan pembelajaran yang jelas, jalur pengembangan kompetensi yang progresif, serta penekanan yang kuat pada keselamatan kerja dan kepatuhan terhadap prosedur. Namun demikian, efektivitas sistem tersebut masih dibatasi oleh berbagai tantangan pada tahap pelaksanaan. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi ketidaksesuaian antara materi pelatihan kelas dengan praktik aktual di lapangan, inkonsistensi dalam proses penilaian dan pemantauan kompetensi, lemahnya koordinasi antara HR, trainer, mentor, dan pimpinan produksi, serta keterlambatan pembaruan kurikulum akibat perubahan proses operasional. Selain itu, tekanan operasional seperti kebutuhan tenaga kerja dan target produksi juga memengaruhi durasi dan kualitas pelaksanaan OJT, yang dalam beberapa kasus menyebabkan percepatan pelatihan tanpa pengendalian yang memadai.
Meskipun terdapat berbagai keterbatasan sistemik, penelitian ini menemukan bahwa efektivitas pembelajaran pada tingkat individu relatif tetap terjaga. Mekanisme pembelajaran berbasis pengalaman, seperti praktik langsung, pendampingan mentor, umpan balik secara real-time, serta kepatuhan terhadap instruksi kerja dan prosedur keselamatan, berperan penting dalam mengompensasi kelemahan sistem formal. Akibatnya, sebagian besar peserta OJT menyatakan memiliki tingkat kepercayaan diri dan kesiapan yang memadai untuk bekerja secara mandiri setelah menyelesaikan program OJT.
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan sejumlah solusi bisnis yang bersifat praktis, antara lain penguatan tata kelola OJT, standarisasi alat evaluasi dan pemantauan, mekanisme sinkronisasi kurikulum secara berkala, peningkatan kapabilitas mentor melalui program sertifikasi, serta penguatan dokumentasi dan ketertelusuran kompetensi. Selain itu, disusun pula rencana implementasi menggunakan pendekatan 5W + 1H untuk memastikan keterlaksanaan dan keselarasan dengan kepentingan para pemangku kepentingan.
Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyediaan pemahaman yang mendalam dan berbasis bukti mengenai kesenjangan antara desain formal dan pelaksanaan sistem OJT, serta pentingnya pendekatan kualitatif dan triangulasi dalam evaluasi sistem pelatihan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi organisasi dalam meningkatkan efektivitas OJT, memperkuat kinerja keselamatan dan kualitas, serta mendukung pengembangan kapabilitas tenaga kerja secara berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB