digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Yudi Abdillah Sobrizal
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Sistem kesehatan Indonesia masih sangat bergantung pada impor dializer, dengan sekitar 89% dari kebutuhan nasional dipasok dari luar negeri. Tingkat ketergantungan impor yang tinggi ini berdampak pada sektor kesehatan berupa gangguan pasokan dan arus keluar modal yang berkelanjutan, masalah yang menjadi sangat jelas selama pandemi COVID-19. Sejalan dengan jumlah pasien yang membutuhkan dialisis rutin yang terus meningkat, permintaan akan alat medis dialisis juga meningkat. Situasi ini menekankan pentingnya pengembangan fasilitas manufaktur lokal untuk memperkuat ketahanan kesehatan di Indonesia. Studi ini menilai kelayakan pendirian fasilitas manufaktur dializer lokal di Indonesia melalui studi kasus PT. Ichiban Medical Global (nama samaran). Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan data primer dari sumber internal perusahaan, termasuk proyeksi investasi, biaya, dan operasional, yang didukung oleh data sekunder dari peraturan pemerintah, BPJS Kesehatan, asosiasi industri, dan organisasi kesehatan internasional. Analisis mencakup permintaan pasar, dukungan regulasi di bawah kebijakan Persyaratan Konten Domestik (TKDN), kesiapan teknis dan operasional, dan kelayakan finansial menggunakan metode penganggaran modal. Hasil penelitian menunjukkan permintaan pasar yang kuat dan berkelanjutan yang didukung oleh cakupan BPJS dan peraturan dializer sekali pakai, serta kebijakan pemerintah yang menguntungkan seperti insentif TKDN dan pengadaan e-Katalog. Analisis keuangan menunjukkan hasil investasi yang positif, dengan Nilai Sekarang Bersih (NPV) yang positif, Tingkat Pengembalian Internal (IRR) di atas biaya modal, dan periode pengembalian modal yang dapat diterima. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa manufaktur dializer lokal layak secara finansial dan penting secara strategis untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat sistem kesehatan Indonesia.