digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengetahuan diakui secara luas sebagai aset organisasi yang penting, yang nilainya bertambah melalui proses berbagi, integrasi, dan pemanfaatan ulang. Namun, keputusan untuk berbagi atau menahan pengetahuan pada akhirnya berada di tangan setiap individu karyawan; dan ketika pengetahuan tetap mengendap dalam ingatan pribadi alih-alih dialihkan menjadi memori organisasi, potensi nilainya pun terbatas. Dalam konteks inilah penyembunyian pengetahuan (knowledge hiding/KH) terus berlangsung sebagai perilaku yang dipersepsikan sengaja dilakukan dan mengganggu aliran pengetahuan. Penelitian terdahulu telah banyak mengkaji KH dari sudut pandang pihak yang menyembunyikan pengetahuan (knowledge hider), tetapi relatif sedikit yang menyoroti pengalaman pencari pengetahuan (knowledge seeker), yakni mereka yang meminta pengetahuan dan harus menyiasati penyembunyian yang dipersepsikan disengaja tersebut. Pemahaman tentang bagaimana pencari pengetahuan memaknai dan menyikapi KH—serta bagaimana respons mereka dapat melahirkan pembelajaran yang melampaui tataran individu—masih sangat terbatas. Penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut melalui dua pertanyaan penelitian: (1) bagaimana pustakawan memaknai KH demi pembelajaran individu dan keberlangsungan pekerjaan, dan (2) mekanisme apa yang memungkinkan atau menghambat peralihan pembelajaran individu dari proses pemaknaan (sensemaking) menjadi pembelajaran organisasi (organizational learning/OL) serta keberlangsungan kerja organisasi. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus tunggal kualitatif di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), lembaga yang berwenang membina pengembangan perpustakaan di seluruh Indonesia, dengan pendekatan abduktif. Data dihimpun melalui wawancara semiterstruktur terhadap 24 pustakawan fungsional dari lima divisi di lingkungan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan serta Pusat Pendidikan dan Pelatihan—seluruhnya menempati peran yang menuntut koordinasi tinggi dan pertukaran pengetahuan yang intensif. Analisis data dilakukan dengan metodologi Gioia, yang bergerak secara sistematis dari konsep tingkat pertama (first-order concepts), tema tingkat kedua (second-order themes), hingga dimensi agregat yang dirangkai menjadi sebuah model teoretis berbasis data (grounded). Temuan penelitian mengungkap empat dimensi agregat yang saling berkaitan. Pertama, pustakawan menjalani siklus pemaknaan yang berulang: mencermati isyarat penyembunyian seperti penundaan, jawaban yang mengambang, dan sinyal nonverbal; menafsirkannya melalui beragam kerangka kognitif; menguji tafsiran itu lewat respons yang mereka ambil; lalu memperbaiki pemahaman berdasarkan hasilnya. Kedua, proses ini melahirkan luaran pada tataran individu dalam dua bentuk yang saling terkait, yaitu pembelajaran sosio-adaptif (socio-adaptive learning)—berupa meningkatnya kepekaan antarpribadi dan penataan ulang nilai- nilai profesional—serta keberlangsungan kerja individu yang tetap terjaga melalui improvisasi tugas, solusi mandiri (workaround), dan jejaring pengetahuan informal yang mem-bypass saluran formal yang tersumbat. Ketiga, terdapat tiga mekanisme yang memungkinkan pembelajaran individu berkembang menjadi kapabilitas kolektif: pembelajaran silang informal (informal cross-learning), dokumentasi pengetahuan individu, dan intervensi kepemimpinan yang menumbuhkan lingkungan yang aman secara psikologis. Keempat, tiga hambatan yang saling berkelindan justru membatasi peralihan tersebut, yakni sistem kerja yang tersekat (siloed) akibat evaluasi kinerja berbasis individu, keengganan berbagi yang berakar pada sikap melindungi diri secara kompetitif dan rasa takut tersorot di hadapan publik, serta tergerusnya pengetahuan tasit akibat rotasi dan purnatugas pegawai. Penelitian ini memberikan tiga kontribusi teoretis. Pertama, ia merinci cara kerja siklus pemaknaan ketika objeknya adalah perilaku yang ditafsirkan sebagai penyembunyian yang disengaja. Kedua, ia menelaah kondisi-kondisi yang memungkinkan pembelajaran individu beralih menjadi OL kolektif. Ketiga, ia memaknai ulang KH sebagai pemicu generatif yang potensial—suatu perilaku yang, kendati benar-benar merugikan, sekaligus dapat membangkitkan pemaknaan, menumbuhkan pembelajaran adaptif, dan menyingkap kerentanan sistemik. Secara praktis, temuan ini menyerukan penyelarasan ulang sistem evaluasi kinerja agar menghargai kolaborasi, pengurangan ketergantungan koordinasi yang kaku, pelembagaan pendampingan (mentoring) terstruktur untuk mengalihkan pengetahuan tasit, penguatan kepemimpinan yang mendorong keamanan psikologis, serta pemantapan sistem dokumentasi bersama. Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa cara organisasi merespons KH— bukan sekadar munculnya KH itu sendiri—tampaknya menentukan apakah ia menjadi semata-mata merugikan atau justru sebagian produktif. Dengan demikian, KH dimaknai ulang bukan sekadar perilaku disfungsional, melainkan pemicu generatif yang potensial bagi pembelajaran, yang implikasi organisasionalnya bergantung pada sejauh mana pemaknaan individu dapat dialihkan menjadi kapabilitas kolektif.. Keywords: penyembunyian pengetahuan, sensemaking, pembelajaran individual, pembelajaran organisasi, keberlangsungan kerja, pustakawan, Perpusnas RI.