Pengetahuan diakui secara luas sebagai aset organisasi yang penting, yang
nilainya bertambah melalui proses berbagi, integrasi, dan pemanfaatan ulang.
Namun, keputusan untuk berbagi atau menahan pengetahuan pada akhirnya
berada di tangan setiap individu karyawan; dan ketika pengetahuan tetap
mengendap dalam ingatan pribadi alih-alih dialihkan menjadi memori organisasi,
potensi nilainya pun terbatas. Dalam konteks inilah penyembunyian pengetahuan
(knowledge hiding/KH) terus berlangsung sebagai perilaku yang dipersepsikan
sengaja dilakukan dan mengganggu aliran pengetahuan. Penelitian terdahulu
telah banyak mengkaji KH dari sudut pandang pihak yang menyembunyikan
pengetahuan (knowledge hider), tetapi relatif sedikit yang menyoroti pengalaman
pencari pengetahuan (knowledge seeker), yakni mereka yang meminta
pengetahuan dan harus menyiasati penyembunyian yang dipersepsikan disengaja
tersebut. Pemahaman tentang bagaimana pencari pengetahuan memaknai dan
menyikapi KH—serta bagaimana respons mereka dapat melahirkan pembelajaran
yang melampaui tataran individu—masih sangat terbatas. Penelitian ini berupaya
mengisi kesenjangan tersebut melalui dua pertanyaan penelitian: (1) bagaimana
pustakawan memaknai KH demi pembelajaran individu dan keberlangsungan
pekerjaan, dan (2) mekanisme apa yang memungkinkan atau menghambat
peralihan pembelajaran individu dari proses pemaknaan (sensemaking) menjadi
pembelajaran organisasi (organizational learning/OL) serta keberlangsungan
kerja organisasi.
Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus tunggal kualitatif di
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), lembaga yang
berwenang membina pengembangan perpustakaan di seluruh Indonesia, dengan
pendekatan abduktif. Data dihimpun melalui wawancara semiterstruktur terhadap
24 pustakawan fungsional dari lima divisi di lingkungan Deputi Bidang
Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan serta Pusat Pendidikan dan
Pelatihan—seluruhnya menempati peran yang menuntut koordinasi tinggi dan
pertukaran pengetahuan yang intensif. Analisis data dilakukan dengan metodologi
Gioia, yang bergerak secara sistematis dari konsep tingkat pertama (first-order
concepts), tema tingkat kedua (second-order themes), hingga dimensi agregat yang
dirangkai menjadi sebuah model teoretis berbasis data (grounded).
Temuan penelitian mengungkap empat dimensi agregat yang saling berkaitan.
Pertama, pustakawan menjalani siklus pemaknaan yang berulang: mencermati
isyarat penyembunyian seperti penundaan, jawaban yang mengambang, dan sinyal
nonverbal; menafsirkannya melalui beragam kerangka kognitif; menguji tafsiran
itu lewat respons yang mereka ambil; lalu memperbaiki pemahaman berdasarkan
hasilnya. Kedua, proses ini melahirkan luaran pada tataran individu dalam dua
bentuk yang saling terkait, yaitu pembelajaran sosio-adaptif (socio-adaptive
learning)—berupa meningkatnya kepekaan antarpribadi dan penataan ulang nilai-
nilai profesional—serta keberlangsungan kerja individu yang tetap terjaga melalui
improvisasi tugas, solusi mandiri (workaround), dan jejaring pengetahuan
informal yang mem-bypass saluran formal yang tersumbat. Ketiga, terdapat tiga
mekanisme yang memungkinkan pembelajaran individu berkembang menjadi
kapabilitas kolektif: pembelajaran silang informal (informal cross-learning),
dokumentasi pengetahuan individu, dan intervensi kepemimpinan yang
menumbuhkan lingkungan yang aman secara psikologis. Keempat, tiga hambatan
yang saling berkelindan justru membatasi peralihan tersebut, yakni sistem kerja
yang tersekat (siloed) akibat evaluasi kinerja berbasis individu, keengganan
berbagi yang berakar pada sikap melindungi diri secara kompetitif dan rasa takut
tersorot di hadapan publik, serta tergerusnya pengetahuan tasit akibat rotasi dan
purnatugas pegawai.
Penelitian ini memberikan tiga kontribusi teoretis. Pertama, ia merinci cara kerja
siklus pemaknaan ketika objeknya adalah perilaku yang ditafsirkan sebagai
penyembunyian yang disengaja. Kedua, ia menelaah kondisi-kondisi yang
memungkinkan pembelajaran individu beralih menjadi OL kolektif. Ketiga, ia
memaknai ulang KH sebagai pemicu generatif yang potensial—suatu perilaku
yang, kendati benar-benar merugikan, sekaligus dapat membangkitkan
pemaknaan, menumbuhkan pembelajaran adaptif, dan menyingkap kerentanan
sistemik. Secara praktis, temuan ini menyerukan penyelarasan ulang sistem
evaluasi kinerja agar menghargai kolaborasi, pengurangan ketergantungan
koordinasi yang kaku, pelembagaan pendampingan (mentoring) terstruktur untuk
mengalihkan pengetahuan tasit, penguatan kepemimpinan yang mendorong
keamanan psikologis, serta pemantapan sistem dokumentasi bersama. Pada
akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa cara organisasi merespons KH—
bukan sekadar munculnya KH itu sendiri—tampaknya menentukan apakah ia
menjadi semata-mata merugikan atau justru sebagian produktif. Dengan demikian,
KH dimaknai ulang bukan sekadar perilaku disfungsional, melainkan pemicu
generatif yang potensial bagi pembelajaran, yang implikasi organisasionalnya
bergantung pada sejauh mana pemaknaan individu dapat dialihkan menjadi
kapabilitas kolektif..
Keywords: penyembunyian pengetahuan, sensemaking, pembelajaran individual,
pembelajaran organisasi, keberlangsungan kerja, pustakawan, Perpusnas RI.
Perpustakaan Digital ITB