Sektor ketenagalistrikan Indonesia menghadapi dua tantangan yang bersifat
structural yaitu memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat pesat yang mana
diproyeksikan tumbuh dari 306,1 TWh pada tahun 2024 menjadi 1.347,6 TWh pada
tahun 2060 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 4,20%,
sekaligus melakukan transisi dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang
saat ini menyuplai 67% dari total output listrik nasional dan berkontribusi sekitar
34,6% terhadap emisi gas rumah kaca nasional. Meskipun Indonesia telah
berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060 melalui Enhanced
Nationally Determined Contribution (NDC), belum ada studi optimasi sebelumnya
yang mengkalibrasi model sektor ketenagalistrikan nasional jangka panjang
berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034
sebagai acuan perencanaan, maupun yang memodelkan penyimpanan baterai
sebagai sumber daya yang dapat dioperasikan sepenuhnya (fully dispatchable)
dalam kerangka optimasi LEAP-NEMO di seluruh skenario hingga cakrawala
pemodelan tahun 2060. Penelitian ini menjawab kedua kesenjangan tersebut.
Penelitian ini menggunakan Low Emissions Analysis Platform (LEAP) yang
terintegrasi dengan solver Network Energy Modeling and Optimization (NEMO)
dan mesin pemrograman linier open-source HiGHS untuk mengevaluasi empat
jalur transisi sektor ketenagalistrikan nasional Indonesia selama periode pemodelan
2024–2060: Business-as-Usual (BAU), Renewable Baseload (RBL), Renewable
Intermittent (REI), dan Cost-Efficient (COE). Semua skenario menggunakan alur
permintaan yang sama yang dikalibrasi berdasarkan proyeksi permintaan RUPTL
2025–2034 milik PLN, dengan parameter biaya dan kinerja teknologi yang
bersumber dari Technology Data for the Indonesian Power Sector (2024) yang
diterbitkan oleh Danish Energy Agency, serta tingkat diskonto sebesar 12% yang
diterapkan secara konsisten.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat skenario memerlukan ekspansi
kapasitas yang substansial dari basis 59,3 GW pada tahun 2024, dengan total
kapasitas terpasang berkisar antara 385,3 GW pada skenario COE hingga 938,2 GW
pada skenario REI pada tahun 2060. Skenario BAU mencapai 447,2 GW dengan
bauran pembangkitan energi terbarukan sebesar 58,8%, namun gagal mencapai
emisi nol bersih, menghasilkan emisi CO? tahunan residual sebesar 44,5 MMT pada
tahun 2060 dan emisi kumulatif sebesar 3.518,9 MMT dengan total investasi
sebesar USD 92,8 miliar. Skenario RBL mencapai nol bersih pada tahun 2060
melalui portofolio baseload rendah karbon yang dapat dioperasikan, yang ditopang
oleh 149,3 GW tenaga air, 67,7 GW panas bumi, dan 43,9 GW energi nuklir tanpa
penyimpanan baterai yang dioperasikan sepanjang pemodelan yang mana
menghasilkan emisi kumulatif terendah sebesar 1.853,6 MMT dengan total
investasi sebesar USD 176,1 miliar. Skenario REI mencapai nol bersih pada tahun
2060 melalui 596,96 GW tenaga surya fotovoltaik dan 127,5 GW energi angin yang
didukung oleh 47,9 GW penyimpanan baterai, namun menghasilkan emisi
kumulatif yang jauh lebih tinggi sebesar 3.135,7 MMT dengan total investasi
sebesar USD 145,5 miliar. Skenario COE, sebagai tolok ukur biaya terendah tanpa
Batasan apapun, memproyeksikan kapasitas batubara terpasang berkembang dari
42,7 GW pada tahun 2024 menjadi 93,3 GW pada tahun 2060, mendorong emisi
CO? tahunan menjadi 212,1 MMT dan emisi kumulatif menjadi 5.860,1 MMT
dengan investasi terendah sebesar USD 82,1 miliar. Perbandingan jalur
dekarbonisasi relatif terhadap COE adalah USD 10,7 miliar untuk BAU, USD 63,4
miliar untuk REI, dan USD 93,9 miliar untuk RBL. Keseluruhan scenario
menunjukan hal yang signifikan adalah bahwa penyimpanan baterai akan mencapai
menjadi alternatif paling ekonomis bahkan tanpa adanya peraturan pemerintah
untuk mencapai target net zero emission, bahkan skenario COE secara mandiri
memilih 15,0 GW penyimpanan baterai yang mana scenario ini tidak ada capaian
energi terbarukan apapun hal ini mengkonfirmasi bahwa integrasi penyimpanan
merupakan hasil ekonomi yang wajar bagi sistem ketenagalistrikan Indonesia
terlepas dari jalur kebijakan yang ditempuh.
Skenario RBL diidentifikasi sebagai jalur transisi yang paling layak secara strategis
bagi Indonesia atas tiga dasar: emisi kumulatifnya sebesar 1.853,6 MMT lebih
rendah 1.282 MMT dibandingkan REI sebesar 3.135,7 MMT, yang disebabkan oleh
pengurangan emisi batubara yang jauh lebih cepat selama periode transisi kritis
2025–2040, ketiadaan kebutuhan penyimpanan baterai secara penuh memberikan
iv
keunggulan transmisi yang lebih tinggi yang sesuai dengan sistem kepulauan
Indonesia yang sangat menyebar, disisi lain keunggulan investasi yang tampak dari
REI sebesar USD 30,5 miliar secara material dilemahkan oleh biaya pengadaan
lahan, penguatan jaringan listrik, dan penurunan kinerja akibat iklim tropis yang
tidak tertangkap dalam model optimasi untuk 938,2 GW total kapasitas terpasang
REI. Hasil skenario COE melakukan ekspansi batubara aktif tanpa adanya Batasan
untuk karbon mengkonfirmasi bahwa kerangka penetapan harga karbon yang
mengikat, jadwal berhentinya pembangkit bersumber batubara yang dilindungi
secara hukum, dan proses perizinan regulasi nuklir yang dipercepat merupakan tiga
instrumen kebijakan yang esensial bagi dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan
Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB