Abstrak - Gwen Mesia Panjaitan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) diposisikan sebagai paru-paru kota yang memproduksi udara bersih sekaligus menjadi penyangga ekologis di tengah lanskap perkotaan. Namun, tingginya aktivitas antropogenik perkotaan, khususnya dari sektor transportasi, memicu emisi polusi yang mampu menembus kawasan RTH dan mengancam kelestarian komponen biotik di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara besarnya beban antropogenik urban dengan karakteristik komunitas lichen epifit pada pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) di RTH Kota Bandung. Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi dengan tingkat aktivitas antropogenik yang berbeda: Tahura Djuanda (sangat rendah), Taman Lansia (sedang), dan Taman Tegallega (sangat tinggi). Penelitian menggunakan metode purposive sampling pada total 30 pohon inang untuk mengevaluasi parameter lingkungan (suhu, kelembapan, intensitas cahaya, volume kendaraan, PM2.5, dan asidifikasi pH substrat), luas tutupan dan keanekaragaman lichen (H'), serta kualitas udara (Index of Atmospheric Purity = IAP). Pengujian akumulasi logam berat (Pb, Zn, Cu, Cd) pada talus dilakukan menggunakan instrumen Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Tegallega memikul beban terberat dengan rata-rata konsentrasi PM2.5 melampaui baku mutu (63,8 ?g/m³) dan asidifikasi kulit kayu terekstrem (pH 5,37). Tekanan polusi ini mengubah struktur komunitas lichen; Tahura Djuanda yang murni tercatat memiliki tingkat keanekaragaman tertinggi (H' = 1,6682) dan didominasi talus crustose seperti Phlyctis argena, sementara di Taman Tegallega didominasi mutlak oleh spesies asidotoleran Dirinaria sp. (62%). Koloni Dirinaria sp. terbukti bertindak sebagai hiperakumulator dengan tingkat serapan timbal (Pb) paling masif, yakni 0,7456 ?g/g. Berdasarkan kalkulasi IAP, kualitas kemurnian udara mengalami degradasi spasial mulai dari Tahura Djuanda (IAP 38,73; polusi rendah), Taman Lansia (IAP 18,45; polusi tinggi), hingga Taman Tegallega (IAP 6,71; polusi sangat tinggi). Pemodelan Principal Component Analysis (PCA) mengonfirmasi bahwa lichen epifit merespons kaskade tekanan lingkungan secara spesifik melalui pergeseran spesies dan bioakumulasi logam berat, menjadikannya bioindikator peringatan dini yang sangat efektif untuk pemetaan kualitas udara perkotaan.
Perpustakaan Digital ITB