digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Naufal Husna Risqulloh
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Fase flare merupakan salah satu tahap kritis dalam proses pendaratan karena pesawat berada pada ketinggian rendah dan mengalami perubahan sudut pitch menjelang touchdown. Pada kondisi tertentu, peningkatan sudut pitch yang tidak terkendali dapat mengurangi tail clearance hingga menyebabkan tailstrike. Meskipun kejadian tailstrike tergolong jarang, insiden ini dapat menimbulkan kerusakan struktural, gangguan operasional, serta biaya perawatan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi metrik insiden sebagai dasar untuk membedakan kondisi aman dan kondisi gagal, serta pendekatan probabilistik untuk mengestimasi probabilitas kejadian dan menentukan strategi mitigasi risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metrik insiden tailstrike pada fase flare, mengkuantifikasi probabilitas kegagalan menggunakan metode Subset Simulation, serta menentukan strategi mitigasi berdasarkan parameter yang berkontribusi terhadap peningkatan probabilitas tailstrike. Data yang digunakan berasal dari Quick Access Recorder (QAR) pesawat Boeing 747-300 pada operasi pendaratan di Bandar Udara Internasional Minneapolis-Saint Paul (KMSP). Metrik insiden didefinisikan menggunakan nilai tail clearance sebagai fungsi batas yang membedakan kondisi aman dan kondisi gagal. Model dinamika longitudinal digunakan untuk merepresentasikan respons pesawat selama fase flare, sedangkan ketidakpastian parameter operasi dimodelkan melalui distribusi probabilitas berdasarkan data QAR. Hasil subset simulation menunjukkan bahwa probabilitas kejadian tailstrike pada kondisi dasar adalah sebesar 1,61 × 10??. Nilai tersebut merepresentasikan probabilitas yang sesuai untuk kejadian extremely rare event dan menunjukkan bahwa tailstrike pada fase flare memiliki tingkat kejadian yang sangat rendah.. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa defleksi elevator dan kecepatan pendaratan merupakan parameter paling dominan dalam memengaruhi probabilitas kegagalan, sedangkan sudut serang dan sudut pitch awal memberikan pengaruh yang lebih kecil. Berdasarkan hasil tersebut, mitigasi risiko tailstrike perlu difokuskan pada pengendalian input elevator yang tidak agresif, pengelolaan kecepatan pendaratan agar tetap sesuai batas operasional, serta pemantauan data penerbangan untuk mendeteksi kondisi yang mendekati batas tail clearance kritis.