Abstrak - Naufal Husna Risqulloh
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Fase flare merupakan salah satu tahap kritis dalam proses pendaratan karena
pesawat berada pada ketinggian rendah dan mengalami perubahan sudut pitch
menjelang touchdown. Pada kondisi tertentu, peningkatan sudut pitch yang tidak
terkendali dapat mengurangi tail clearance hingga menyebabkan tailstrike.
Meskipun kejadian tailstrike tergolong jarang, insiden ini dapat menimbulkan
kerusakan struktural, gangguan operasional, serta biaya perawatan yang signifikan.
Oleh karena itu, diperlukan identifikasi metrik insiden sebagai dasar untuk
membedakan kondisi aman dan kondisi gagal, serta pendekatan probabilistik untuk
mengestimasi probabilitas kejadian dan menentukan strategi mitigasi risiko.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metrik insiden tailstrike pada fase
flare, mengkuantifikasi probabilitas kegagalan menggunakan metode Subset
Simulation, serta menentukan strategi mitigasi berdasarkan parameter yang
berkontribusi terhadap peningkatan probabilitas tailstrike. Data yang digunakan
berasal dari Quick Access Recorder (QAR) pesawat Boeing 747-300 pada operasi
pendaratan di Bandar Udara Internasional Minneapolis-Saint Paul (KMSP). Metrik
insiden didefinisikan menggunakan nilai tail clearance sebagai fungsi batas yang
membedakan kondisi aman dan kondisi gagal. Model dinamika longitudinal
digunakan untuk merepresentasikan respons pesawat selama fase flare, sedangkan
ketidakpastian parameter operasi dimodelkan melalui distribusi probabilitas
berdasarkan data QAR. Hasil subset simulation menunjukkan bahwa probabilitas
kejadian tailstrike pada kondisi dasar adalah sebesar 1,61 × 10??. Nilai tersebut
merepresentasikan probabilitas yang sesuai untuk kejadian extremely rare event dan
menunjukkan bahwa tailstrike pada fase flare memiliki tingkat kejadian yang
sangat rendah.. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa defleksi elevator dan
kecepatan pendaratan merupakan parameter paling dominan dalam memengaruhi
probabilitas kegagalan, sedangkan sudut serang dan sudut pitch awal memberikan
pengaruh yang lebih kecil. Berdasarkan hasil tersebut, mitigasi risiko tailstrike
perlu difokuskan pada pengendalian input elevator yang tidak agresif, pengelolaan
kecepatan pendaratan agar tetap sesuai batas operasional, serta pemantauan data
penerbangan untuk mendeteksi kondisi yang mendekati batas tail clearance kritis.
Perpustakaan Digital ITB