ABSTRAK Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Dimas Rizki Saputra
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Loss of Coolant Accident (LOCA) merupakan kondisi kecelakaan reaktor nuklir
yang memicu lonjakan suhu drastis, menyebabkan kelongsong bahan bakar
zircaloy-4 rentan mengalami oksidasi parah akibat paparan uap air dan udara
terbuka. Upaya mitigasi melalui Emergency Core Cooling Systems (ECCS) saat ini
masih mengandalkan air konvensional yang memiliki keterbatasan konduktivitas
termal. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh suhu dan waktu
terhadap perilaku oksidasi zircaloy-4 pada simulasi LOCA parah, serta
mengevaluasi penggunaan nanofluida zirkonia sebagai alternatif pendingin darurat
ECCS. Penelitian dilakukan menggunakan zircaloy-4 yang dipanaskan di
lingkungan udara terbuka dengan variasi suhu pada 800?-1100? dan variasi
waktu pada 5 menit-60 menit. Aktifnya ECCS disimulasikan dengan metode
pendinginan cepat (quenching) menggunakan nanofluida zirkonia dengan variasi
konsentrasi 0-1,2 g/L. Fenomena oksidasi ditinjau dari beberapa aspek, yaitu
penambahan massa pada sampel dan perubahan permukaan sampel secara
mikroskopis serta analisis lapisan oksida menggunakan XRD, Raman, dan SEMEDX. Pengaruh penggunaan nanofluida dilihat dari perubahan suhu sampel pada
saat quenching yang diamati menggunakan kamera termal serta perubahan massa
setelah quenching dilakukan. Percobaan kenaikan suhu meningkatkan laju oksidasi
ditandai dengan pertambahan massa dan ketebalan lapisan secara eksponensial,
serta terjadinya perubahan warna menjadi kecoklatan secara tidak homogen. Di sisi
lain, variasi waktu paparan menunjukkan peningkatan massa dan ketebalan dengan
kinetika oksidasi gabungan antara parabolik dan linear (nilai n = 0,75) akibat
peristiwa breakaway oxidation disertai dengan perubahan geometri yang teramati
mulai dari waktu paparan 15 menit. Berdasarkan kedua variasi tersebut, diperoleh
energi aktivasi penambahan massa dan ketebalan secara berurutan adalah 2,99
kJ/mol dan 2,69 kJ/mol. Energi tersebut lebih kecil dibandingan pada lingkungan
uap air akibat adanya interaksi dengan nitrogen sebagai katalis reaksi. Perubahan
warna dari hitam menjadi kecokelatan menandakan telah terjadi perubahan fasa
kristal, ditandai dari kemunculan raman shift 147 ?????????1 pada sampel berwarna
hitam yang mengindikasikan fasa tetragonal serta raman shift 177 ?????????1 dan 190
?????????1
pada sampel berwarna kecokelatan yang menunjukkan fasa monoklinik
setelah suhu dan waktu paparan yang lebih tinggi. Selanjutnya, penggunaan nanofluida untuk sistem ECCS menunjukkan kontras warna pada kamera termal
yang lebih tinggi dan penambahan massa yang lebih kecil. Pengaruh suhu dan
waktu paparan pada penelitian ini menunjukkan hasil yang sesuai dengan hukum
Arrhenius. Penggunaan nanofluida sebagai pendingin darurat ECCS menunjukkan
konduktivitas termal yang lebih baik dan fenomena deposisi menjadi mekanisme
yang memengaruhi penambahan massa pada saat menggunakan nanofluida.
Perpustakaan Digital ITB