Penelitian mengkaji kontribusi curah hujan terhadap kejadian longsor di Indonesia, dengan
mengintegrasikan data satelit curah hujan IMERG (resolusi spasial 10 km dan temporal 30
menit) dan satelit kelembapan tanah SMAP (resolusi spasial 10 km dan temporal 3 hari).
Sebanyak 354 titik longsor dari Global Landslide Catalog (GLC) tahun 2007–2016,
menunjukkan bahwa 75% longsor di Indonesia berada pada zona musim monsunal (satu kali
musim hujan, satu kali musim kemarau dalam setahun), 95,8% memiliki pola curah hujan
diurnal (satu puncak hujan dalam sehari), 53,95% berada pada wilayah dengan nilai
kelembapan tinggi dan 42,94% pada kelembapan agak tinggi. Kejadian longsor pada tanggal
18 Juni 2016 di Kabupaten Banjarnegara, terjadi pada akhir fase El Niño yang kuat dan
menyebabkan kemarau panjang di Indonesia. Studi kasus pertama, dilakukan di Kabupaten
Banjarnegara dan sekitarnya menggunakan titik longsor GLC. Secara umum, variasi hujan
sebelum kejadian di 12 titik longsor, memiliki intensitas ringan hingga sedang dengan
frekuensi tinggi. Berdasarkan hasil uji tanah, faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap
longsor adalah porositas dan permeabilitas yang tinggi. Studi kasus kedua, menggunakan titik
longsor dari PVMBG pada bulan Juni 2016. Lokasi terpilih didominasi oleh litologi vulkanik.
Dari lima lokasi, empat titik di Jawa Tengah memiliki pola musim monsunal, hujan anteseden
berintensitas rendah dan berfrekuensi tinggi. Satu lokasi di Sulawesi Utara, beriklim ekuatorial,
frekuensi hujan rendah dan longsor terjadi bertepatan pada saat hujan lebat. Karena tidak
tersedianya perekaman data satelit SMAP di Sulawesi, analisis interaksi hujan dan kelembapan
tanah hanya dilakukan di Jawa. Kelembapan tanah tidak mencapai nilai maksimum, tetapi
mencapai nilai optimum yang bervariasi mulai dari 33% (titik A) hingga 77,39% (titik B dan
D). Nilai optimum tersebut akibat karakteristik fisik yang berbeda, sehingga respons
kelembapan tanah terhadap hujan bervariasi. Pola kelembapan tanah menunjukkan respons
positif terhadap keberadaan hujan, dan memiliki tiga fase penting, yaitu fase tidak jenuh (P1),
fase inisiasi kejenuhan (P2), dan fase kejenuhan yang memicu longsor (P3). Kecepatan
kelembapan tanah mencapai nilai optimum ketika hujan mulai turun, lebih besar dibandingkan
dengan kecepatan saat mencapai nilai terendah setelah hujan berhenti. Temuan ini menegaskan
bahwa curah hujan berperan ganda, sebagai pengontrol sekaligus pemicu pada ketidakstabilan
lereng.
Perpustakaan Digital ITB