digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pasar modal Indonesia terus dibayangi pelemahan rupiah yang berkepanjangan serta pergerakan modal asing yang menyulitkan pengambilan keputusan bagi investor asing. Bagi investor berbasis dolar AS, imbal hasil dari aset Indonesia dihitung dalam dolar sehingga pelemahan nilai tukar dan arus keluar modal menggerus imbal hasil riil, terlepas dari kinerja saham domestiknya. Sepanjang 2021 hingga 2024, rupiah melemah dari Rp14.000 menjadi di atas Rp16.000 per dolar akibat arus keluar bersih modal asing yang terus berlanjut. Di sisi lain, muncul indikasi bahwa portofolio yang memadukan aset domestik dan global dengan penggerak imbal hasil yang berbeda dapat lebih tangguh dan efisien. Penelitian ini bertujuan menyusun portofolio optimal multi-aset yang terdiri atas Bitcoin, emas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan S&P 500 dalam denominasi dolar AS. Data harga bulanan dari Januari 2021 hingga Desember 2024 digunakan sebagai periode estimasi, sedangkan tahun 2025 menjadi periode luar sampel (out-of-sample). Optimisasi dilakukan dengan model mean-variance Markowitz melalui Solver Microsoft Excel untuk memaksimalkan rasio Sharpe dengan menerapkan kendala anggaran, kendala non-negativitas, serta bobot minimum 5 persen untuk setiap aset. Tingkat bebas risiko yang digunakan merupakan gabungan antara imbal hasil obligasi pemerintah AS (U.S. Treasury Bond) dan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (SBN) untuk menilai kinerja portofolio. Analisis dimulai dari portofolio berbasis ekuitas yang hanya memuat kedua indeks sebagai acuan dasar, kemudian ditambahkan emas dan Bitcoin. Portofolio optimal menghasilkan rasio Sharpe sebesar 0,812 dengan alokasi 52 persen pada emas, 28 persen pada S&P 500, 15 persen pada Bitcoin, dan 5 persen pada IHSG. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan portofolio berbasis ekuitas yang hanya mencapai 0,227 maupun indeks pasar saham yang menjadi tolok ukur. Pada simulasi tahun 2025, rebalancing kuartalan menghasilkan imbal hasil 37,85 persen, strategi buy-and-hold 37,41 persen, dan rebalancing semesteran 36,66 persen. Penelitian ini menawarkan model alokasi yang praktis dan berbasis data untuk menunjukkan bagaimana aset safe-haven berbasis komoditas dan aset alternatif digital dapat meningkatkan kinerja yang disesuaikan terhadap risiko bagi investor berbasis dolar AS yang terpapar risiko pasar saham Indonesia.