Talegalla jobiensis, megapoda endemik utara New Guinea diketahui menginvestasikan energi masif untuk konstruksi gundukan sarang agar menghasilkan panas inkubasi ideal bagi telurnnya. Namun, bagaimana perilaku pemeliharaan ini berfungsi sebagai indikator seleksi seksual dalam konsep trade – off evolusioner belum pernah diuji secara empiris. sarang inisebagai Penelitian ini akan menguji hipotesis bahwa kualitas konstruksi beserta perilaku pemeliharaan gundukan sarang berhubungan dengan keberhasilan reproduksi oleh terduga jantan. Keberhasilan ini akan dilihat melalui SMI (Sexy Male Indicator) yang diitegrasikan kedalam tiga proxy yaitu : Physical proxy (kualitas arstiketur mikroklimat, termal kontinu dan edafik gundukan sarang), Behavioural proxy (konsistensi dari perilaku pemeliharaan gundukan sarang seerta korelasi male effort – female presence) dan Defensive proxy (Kapabilitas dalam mempertahankan gundukan sarang serta terduga betina dari ancaman predator dan terduga jantan penyusup(kompetisi). Pendekatan studi observasional longtudinal diterapkan pada penelitian ini. Survei dengan metode purposive sampling pada luasan 211,021 ha, berhasil menemukan 16 gundukan sarang;kondisi mikroklimat dan edafik diukur secara snapshot pada area gundukan sarang dan sekitarnya; temperatur dan kelembapan diukur dengan data logger secara in situ di lubang telur gundukan sarang representatitf.; enam unit Camera Trap dipasang dengan rincian: empat unit di area gundukan sarang dan dua unit dipasang di area pakan dan area tempat minum. Data Edafik menunjukkan T.jobiensis secara aktif merekayasa edafik di gundukan sarang. Lima parameter berbeda signifikan antara tanah sekitar dan tanah gundukan sarang (p < 0,01; koreksi Holm – Bonferroni). Homogenitas edafik antara permukaan gundukan sarang dan lubang telur menunjukan modifikasi secara penuh oleh T.jobiensis dan tidak bersifat modifikasi superfisial. Distribusi gundukan lebih dikendalikan oleh ketersediaan material organik dibandingkan dengan kondisi mikroklimat, mengkonfirmasi tingginya plastisitas adaptasi dari T. jobiensis. Pengukuran termal kontinu secara in situ pada dua gundukan sarang
ii
berstatus berlawanan (GSA 1 sukses kopulasi; GSA 6 gagal / tidak terekam kopulasi) menunjukan stabilitas yang identik (Suhu: 27 – 29,3 °C dan kelembapan: 95 – 100 %). Camera trap berhasil mendokumentasikan 19.220 file (776 kejadian 372 kejadian diantaranya T.jobiensis) dengan Mound Maintenance menjadi perilaku paling dominan (50,7%) dan mayoritas dilakukan saat pagi hari. Mound maintenance berasosiasi signifikan dengan konteks berpasangan (Uji Fisher p < 0,001), serta usaha terduga jantan berkorelasi positif dengan kehadiran betina di area gundukan sarang (Spearman, rho = 0,44 – 0,94). Namun, setelah variasi antar gundukan sarang dikendalikan melalui Generalize Linear Mixed Model, effort dari terduga jantan tidak menjadi prediktor tunggal keberhasilan reproduksi. Hal ini mengindikasikan bahwa betina menilai kualitas jantan secara menyeluruh (holistik) melalui integrasi ketiga proxy. Kopulasi yang terdokumentasi di dua gundukan sarang terjadi setelah berlangsungnya perilaku pemeliharaan gundukan sarang oleh terduga jantan. Terduga betina akan hadir pada area sekitar gundukan sarang sebagai evaluator dalam menilai terduga jantan. Interaksi agonistik intraspesies justru terekam di area gundukan sarang dengan status gagal kopulasi denga terduga jantan resident memenangkan seluruh konfrontasi. Hal ini mengindikasikan bahwa dominai teritorial tidak cukup memprediksi keberhasilan reproduksi. Pemeliharaan gundukan sarang tidak hanya menghasilkan incubation chamber bagi telur, namun menjadi bukti penerapan trade – off sebagai sinyal jujur (honest signalling) multin modal dalam seleksi seksual T.jobiensis.
Perpustakaan Digital ITB