digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Al Lailatul Qodriyah
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Kota Depok merupakan salah satu kota penyangga Jakarta dengan tingkat mobilitas komuter yang tinggi. Sebagai simpul transportasi utama, Stasiun Depok Baru melayani lebih dari 5.500 penumpang per hari dan terintegrasi dengan Terminal Depok serta rencana jaringan Light Rail Transit (LRT), sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD). Meskipun telah ditetapkan sebagai kawasan TOD dalam RTRW Kota Depok Tahun 2022–2042, pencapaian kondisi ideal TOD memerlukan proses transformasi yang berlangsung dengan transisi karena kawasan telah berkembang, memiliki struktur kepemilikan lahan yang kompleks, serta menghadapi berbagai keterbatasan implementasi. Penelitian terdahulu umumnya berfokus pada pemenuhan indikator normatif TOD tanpa mempertimbangkan proses transformasi maupun kebutuhan pengguna sebagai dasar perancangan. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi dan konsep perancangan transformasi Kawasan Stasiun Depok Baru menuju TOD melalui pendekatan Human-Centered Design (HCD). Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed methods yang mengombinasikan analisis kuantitatif terhadap indikator spasial kawasan dengan analisis kualitatif melalui observasi, kuesioner pengguna KRL, serta wawancara dengan masyarakat sekitar dan pedagang kaki lima untuk mengidentifikasi kebutuhan, preferensi, dan persepsi pengguna. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kawasan Stasiun Depok Baru masih memiliki karakteristik Transit Adjacent Development (TAD), ditandai oleh dominasi kendaraan pribadi, rendahnya kualitas aksesibilitas pejalan kaki, lemahnya konektivitas antarmoda, penggunaan lahan yang belum optimal, fragmentasi kawasan, serta konflik pemanfaatan ruang. Struktur persoalan kawasan tidak hanya disebabkan oleh ketidaksesuaian dengan prinsip TOD, tetapi juga oleh kesenjangan antara kebutuhan pengguna dan kondisi fisik kawasan. Kebutuhan utama pengguna meliputi peningkatan kualitas jaringan pedestrian, integrasi antarmoda, ruang terbuka publik, penataan aktivitas ekonomi informal, sistem wayfinding, serta ruang publik yang mendukung interaksi sosial. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merumuskan strategi transformasi kawasan yang mempertimbangkan analisa kondisi eksisting, struktur kepemilikan lahan, keterbatasan implementasi, dan kebutuhan pengguna. Strategi tersebut diterjemahkan ke dalam konsep perancangan berupa pengembangan tata guna lahan campuran, peningkatan intensitas kawasan di sekitar simpul transit, penguatan jaringan pedestrian, integrasi antarmoda, penyediaan ruang terbuka hijau dan biru, penataan ekonomi lokal, serta penguatan ruang publik. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi pendekatan HCD dalam kerangka transformasi dari TAD menuju TOD yang menghasilkan strategi perancangan yang lebih adaptif, realistis, dan berorientasi pada pengguna.