digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Irna Transista
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Pulau Tunda merupakan wilayah kelistrikan terisolasi yang belum memperoleh layanan listrik selama 24 jam dan masih bergantung pada PLTD 130 kVA dengan waktu operasi terbatas. Sistem kelistrikan saat ini melayani 297 kepala keluarga dan direncanakan mengalami pertumbuhan beban dari PT. Millenium Permata Indah (PT. MPI) dengan daya kontrak sebesar 3,4 MVA. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan sistem kelistrikan yang lebih andal, ekonomis, dan berkelanjutan melalui integrasi PLTS, BESS, dan PLTD. Penelitian ini bertujuan menentukan konfigurasi optimal sistem hybrid PLTS–BESS–PLTD offgrid di Pulau Tunda menggunakan HOMER Pro dengan mempertimbangkan variasi Capacity Shortage, sensitivitas harga bahan bakar diesel, penerapan Demand Response melalui load shifting pada beban PT. MPI, serta kebutuhan kompensasi listrik. Evaluasi dilakukan berdasarkan parameter teknis dan ekonomi, meliputi kapasitas PLTS, kapasitas BESS, operasi PLTD, Initial Capital, LCOE, Unmet load, Capacity Shortage, dan biaya kompensasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario dasar dengan Capacity Shortage 0% menghasilkan konfigurasi optimal berupa PLTS 10,88 MW, BESS 11,7 MWh, converter 2,83 MW, serta PLTD 130 kVA dan PLTD 3.500 kVA sebagai pembangkit pendukung. Konfigurasi ini menghasilkan LCOE sebesar Rp3.261/kWh dengan Initial Capital sekitar Rp220 miliar, serta tidak menghasilkan Unmet load dan Capacity Shortage. Penerapan Demand Response mampu menggeser sebagian beban ke periode siang hari sehingga pemanfaatan energi surya menjadi lebih optimal, sedangkan skema land sharing dengan pemanfaatan potensi lahan PT. MPI dapat menurunkan LCOE menjadi Rp3.157/kWh. Penurunan LCOE tersebut juga berimplikasi pada berkurangnya kebutuhan kompensasi listrik, mengingat biaya penyediaan tenaga listrik pada sistem terisolasi masih lebih tinggi dibandingkan tarif jual listrik yang berlaku.