Pulau Tunda merupakan wilayah kelistrikan terisolasi yang belum memperoleh
layanan listrik selama 24 jam dan masih bergantung pada PLTD 130 kVA dengan
waktu operasi terbatas. Sistem kelistrikan saat ini melayani 297 kepala keluarga
dan direncanakan mengalami pertumbuhan beban dari PT. Millenium Permata
Indah (PT. MPI) dengan daya kontrak sebesar 3,4 MVA. Kondisi tersebut
mendorong perlunya pengembangan sistem kelistrikan yang lebih andal, ekonomis,
dan berkelanjutan melalui integrasi PLTS, BESS, dan PLTD. Penelitian ini
bertujuan menentukan konfigurasi optimal sistem hybrid PLTS–BESS–PLTD offgrid
di Pulau Tunda menggunakan HOMER Pro dengan mempertimbangkan
variasi Capacity Shortage, sensitivitas harga bahan bakar diesel, penerapan
Demand Response melalui load shifting pada beban PT. MPI, serta kebutuhan
kompensasi listrik. Evaluasi dilakukan berdasarkan parameter teknis dan ekonomi,
meliputi kapasitas PLTS, kapasitas BESS, operasi PLTD, Initial Capital, LCOE,
Unmet load, Capacity Shortage, dan biaya kompensasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario dasar dengan Capacity Shortage 0%
menghasilkan konfigurasi optimal berupa PLTS 10,88 MW, BESS 11,7 MWh,
converter 2,83 MW, serta PLTD 130 kVA dan PLTD 3.500 kVA sebagai
pembangkit pendukung. Konfigurasi ini menghasilkan LCOE sebesar
Rp3.261/kWh dengan Initial Capital sekitar Rp220 miliar, serta tidak
menghasilkan Unmet load dan Capacity Shortage. Penerapan Demand Response
mampu menggeser sebagian beban ke periode siang hari sehingga pemanfaatan
energi surya menjadi lebih optimal, sedangkan skema land sharing dengan
pemanfaatan potensi lahan PT. MPI dapat menurunkan LCOE menjadi
Rp3.157/kWh. Penurunan LCOE tersebut juga berimplikasi pada berkurangnya
kebutuhan kompensasi listrik, mengingat biaya penyediaan tenaga listrik pada
sistem terisolasi masih lebih tinggi dibandingkan tarif jual listrik yang berlaku.
Perpustakaan Digital ITB