Abstrak - Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA Muhammad Luqman Dzaky
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tingkat deforestasi tinggi adalah Provinsi Kalimantan Timur. Aktivitas antropogenik, seperti penebangan, alih fungsi lahan, dan pertambangan menjadi penyebab terjadinya degradasi hutan. Perlu adanya upaya restorasi untuk mengembalikan ekosistem hutan tersebut, seperti yang telah dilakukan oleh Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF) Samboja Lestari. BOSF telah melakukan upaya restorasi hutan yang berawal dari lahan yang didominasi alang-alang (Imperata cylindrica) menjadi hutan sekunder. Kajian komposisi penting dilakukan untuk melihat sejauh mana kompleksitas hutan yang terbentuk. Kompleksitas komposisi tersebut tidak hanya dilihat dari tegakan pohon, tetapi juga tumbuhan bawah, epifit, dan liana yang berperan penting dalam regenerasi dan pemulihan hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi tumbuhan bawah, epifit, dan liana serta menentukan tahapan suksesi hutan sekunder berdasarkan komposisi tumbuhan bawah pada plot permanen baru di kawasan BOSF Samboja Lestari, Kalimantan Timur. Pencatatan vegetasi dilakukan di dalam plot permanen baru yang dibuat di kawasan hutan sekunder BOSF Samboja Lestari yang terdiri dari 4 blok tanam dengan 8 plot berbeda seluas total 1 ha. Blok tanam ini antara lain meranti, kapur, buah, dan campuran. Tumbuhan bawah yang dicatat antara lain semai dengan pencatatan jumlah individu serta perdu dan herba melalui pencatatan kerimbunan, sedangkan untuk epifit dan liana dilakukan pencatatan secara kualitatif di tiap pohon. Ditemukan 137 spesies semai dari 48 famili dengan jumlah individu per hektar adalah 51.448 ind/ha, 5 spesies perdu dari 4 famili dengan kerimbunan total 2,1%, dan 13 spesies herba dari 8 famili dengan kerimbunan total 13,5%. Spesies semai yang mendominasi di dalam plot penelitian adalah Litsea umbellata dan Syzygium cerasiforme dengan INP berturut-turut adalah 22,5% dan 14,7%. Epifit yang ditemukan antara lain lumut dan lichen serta liana dengan proporsi persentase yang menempel pada individu pohon berturut-turut sebesar 93,3%, 90,1%, dan 47,9%. Proporsi persentase epifit dan liana yang menempel pada pohon secara keseluruhan adalah 98,5%. Spesies pohon dengan proporsi persentase terbanyak yang ditempeli epifit dan liana adalah Strobocalyx arborea dan Cratoxylum sumatranum. Secara keseluruhan, kanopi hutan sudah terbentuk rapat dengan rata-rata tutupan kanopi di atas 89%. Tumbuhan bawah didominasi oleh semai dengan spesies dominan adalah spesies yang termasuk spesies tahap suksesi akhir atau klimaks, seperti Rubroshorea dan Palaquium. Perdu dan herba tidak mendominasi lantai hutan karena rendahnya kerimbunan. Selain itu, epifit mayoritas menempel di pohon dan kelimpahan liana yang mendominasi hampir setengah dari keseluruhan individu pohon. Hal ini menunjukkan arah suksesi menuju hutan sekunder tua dengan tahapan saat ini adalah reinisiasi tumbuhan bawah.
Perpustakaan Digital ITB