Pemanfaatan membran amnion manusia (human amnion membrane, hAM) telah
diidentifikasi sebagai pilihan alami yang menjanjikan untuk regenerasi luka kulit
dan pengobatan lesi kulit, termasuk luka kulit kronis yang disebabkan penyakit
diabetes melitus (DM). hAM terdiri dari sel epitel dan fibroblas sehingga rentan
terhadap penolakan dan pelepasan faktor pertumbuhan. Oleh karena itu, sel epitel
harus dideselularisasi namun apabila hAM dideselularisasi, maka dapat
menurunkan sifat mekaniknya maka perlu menggunakan material komposit yang
memiliki stabilitas mekanik seperti spidroin sehingga hAM bisa digunakan lebih
efektif sebagai dressing luka. hAM dapat memberikan sinyal biologis dan faktor
pertumbuhan sedangkan spidroin menyediakan struktur kuat dan stabilitas
mekanik. Penggunaan hidrogel sebagai bentuk penghantaran material telah
mendapat perhatian dibidang medis karena sifatnya mampu mempertahankan
kelembapan di area luka yang dapat mempercepat regenerasi jaringan dan dapat
mengurangi rasa sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan
mengevaluasi efek potensial penyembuhan luka kulit kronis melalui aplikasi
hidrogel topikal yang mengandung komposit human amnion membran
decellularization (hAMD) dan spidroin dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Adapun kelompok kontrol terdiri dari; i) kelompok sehat, ii) kelompok kontrol
DM tanpa perlakuan, iii) kelompok kontrol DM perlakuan karbopol, iv) kelompok
kontrol DM perlakuan hAM komersial. Pengamatan dilakukan secara
makroskopis dan mikroskopis (histopatologi).
Metode penelitian, hAM sebelum digunakan terlebih dahulu dideselularisasi
menggunakan metode kimiawi. Spidroin diekstraksi dari jaring laba-laba Argiope
appensa menggunakan asam format. Selanjutnya komersial, hAMD, spidroin dan
komposit diformulasikan dalam bentuk hidrogel dan dikarakterisasi menggunakan
Scanning Electron Microscope (SEM), Attenuated Total Reflection-Fourier
Transform Infrared Spectroscopy (ATR-FTIR), uji viabilitas hidrogel secara
organoleptik, uji pH, fraksi gel, dan swelling ratio. Mencit jantan (Mus musculus)
galur Swiss Webster diinduksi sampai diabetes melitus melalui penyuntikan
aloksan secara intraperitoneal. Pengujian dilakukan 2 tahap; tahap pertama
merupakan uji pendahuluan untuk menentukan konsentrasi hidrogel terbaik,
konsentrasi 10 atau 15%. Adapun kelompok yang diujikan terdiri dari; i) hAM
komersial 10%, ii) hAM komersial 15%, iii) hAMD 10%, iv) hAMD 15%, v)
spidroin 10%, vi) spidroin 15%, vii) komposit 10% (komposit yang mengandung
hAMD 10% dan spidroin 10%), viii) komposit 15% (komposit yang mengandung
15% hAMD dan 15% spidroin). Tahap selanjutnya adalah uji lanjutan dengan
pemberian hidrogel menggunakan konsentrasi yang telah ditentukan. Kelompok
DM perlakuan, diberi hidrogel sebanyak 3 kali (pagi, siang dan malam) setiap hari
dengan cara topikal. Penyembuhan luka dievaluasi secara makroskopik pada hari
ke 3,7,14 dan 21 setelah perlakuan. Selanjutnya mencit di eutanasia, dilakukan
pengolahan jaringan untuk menganalisis (1) tahap inflamasi (hari ke 3) dengan
menghitung jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit). (2) Tahap
proliferasi (hari ke 7 dan 14) dan (3) tahap remodeling (hari ke 21) dengan
menghitung dan menganalisis jumlah pembuluh darah baru (angiogenesis),
fibroblas, re-epitelisasi, kolagen, dan TGF-?. Perubahan histopatologi luka kulit
dianalisis menggunakan pewarnaan histologi diantaranya; i) Hematoxylin Eosin
(HE) untuk sel inflamasi, angiogenesis, fibroblas, dan sel epitel. ii) Pewarnaan
Trichrome masson (TM) untuk menganalisis kolagen dan iii) pewarnaan
Immunohistochemistry (IHC) untuk visualisasi Transforming Growth Factor-beta
(TGF-?).
Hasil penelitian ini menunjukkan, hAM yang dideselularisasi sudah tidak
memiliki sel epitel dibandingkan dengan hAM tanpa deselularisasi (fresh).
Berdasarkan hasil ATR-FTIR, spektra FTIR sampel hAMD memiliki karakteristik
puncak pada wavenumber 1650 (amida I), 1550 (amida II), 1450, dan 1200 amida
III), sedangkan sampel spidroin mempunyai karakteristik puncak pada 1530 cm-1
(amida II). Keberadaan gugus amida menunjukkan bahwa hAMD masih
mempertahankan sifat bioaktif dan biokompatibel, sehingga dapat berfungsi sebagai
matriks penopang alami yang dapat mempercepat proses epitelisasi serta penutupan
luka. Hasil uji penentuan konsentrasi pada hari ke 21 diantaranya; i) hAM
komersial 15%, ii) hAMD 15%, iii) spidroin 15% dan iv) komposit 10%
menyebabkan penutupan luka secara signifikan (p<0,05) lebih cepat dibandingkan
konsentrasi lain. Hasil pengamatan makroskopik, penutupan luka pada kelompok
mencit DM perlakuan komposit 10% lebih baik dan lebih cepat 33%
dibandingkan dengan kelompok kontrol sehat dan 40% dibandingkan dengan
kelompok DM tanpa perlakuan. Apabila dibandingkan dengan kelompok
perlakuan lain seperti kelompok kontrol karbopol, kelompok kontrol komersial,
kelompok perlakuan hAMD dan kelompok perlakuan spidroin, kelompok mencit
perlakuan komposit 10% penutupan lukanya lebih cepat 15-20%. Hasil penutupan
luka makroskopik sejalan dengan hasil histopatologi masing-masing kelompok
baik kelompok mencit DM tanpa perlakuan dan DM semua perlakuan. Pada fase
inflamasi, komposit 10% mampu memfasilitasi proliferasi sel inflamasi. Pada fase
proliferasi, komposit 10% juga mampu membentuk angiogenesis, fibroblas, reepitelisasi,
meningkatkan sintesis kolagen dan TGF-?. Pada fase remodeling,
jumlah sel inflamasi, angiogenesis, fibroblas, re-epitelisasi, dan sintesis kolagen
terjadi penurunan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok DM tanpa
perlakuan dikarenakan sudah terjadi penutupan luka. Visualisasi TGF-? pada
kelompok DM komposit 10% terdapat peningkatan dari hari ke 3,7,14 dan pada
hari ke 21, jumlah TGF-? terjadi penurunan sehingga kecil kemungkinan
terjadinya pertumbuhan jaringan parut yang berlebih dan menonjol di atas bekas
luka.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan, hidrogel topikal yang
mengandung hAMD 15%, spidroin 15% maupun komposit 10% memiliki potensi
dalam penyembuhan luka kronis pada mencit yang diinduksi diabetes, namun
yang paling cepat dalam penutupan luka dari 3 kelompok diatas adalah hidrogel
topikal mengandung komposit 10%.
Perpustakaan Digital ITB