Penelitian ini mengkaji pola abnormal return yang terkait dengan peristiwa
rekonstitusi indeks MSCI di Indonesia serta implikasinya terhadap tata kelola
benchmark dan kebijakan pasar modal, dilatarbelakangi oleh meningkatnya
pengaruh indeks acuan global terhadap arus modal, perilaku investor, dan valuasi
di pasar negara berkembang dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi.
Berlandaskan pada Market Microstructure Theory sebagai lensa analitis, bersama
Efficient Market Hypothesis, Behavioral Finance, dan Teori Investasi dan
Manajemen Portofolio, penelitian ini menggunakan studi peristiwa tiga lapis
terhadap lima saham Indonesia yang terafiliasi konglomerasi, menggunakan MSCI
Indonesia Index sebagai benchmark utama dan indeks komposit serta sektoral
sebagai spesifikasi pendukung, dilengkapi dengan analisis peristiwa eksklusi dan
kajian tata kelola komparatif, untuk menilai apakah abnormal return terkait MSCI
mencerminkan price pressure atau strategic pre-positioning.
Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, peristiwa inklusi
MSCI menghasilkan CAAR pra-pengumuman sebesar +72,9% pada spesifikasi
utama MSCI Indonesia Index (t = 5,618, ? = 0,01) selama 120 hari, dikuatkan oleh
spesifikasi komposit (+54,4%, ? = 0,10) dan sektoral (+49,9%), sementara
peristiwa standar tidak menghasilkan CAAR positif yang berkelanjutan, lebih
konsisten dengan strategic pre-positioning dibanding price pressure. Kedua, interim
freeze MSCI Januari 2026 yang digunakan sebagai proksi eksklusi menghasilkan
reaksi negatif yang persisten pada spesifikasi utama tanpa pemulihan, sementara
spesifikasi komposit dan sektoral hanya menunjukkan respons negatif jangka
pendek yang diikuti pemulihan, mengindikasikan modal domestik dan modal
internasional menafsirkan freeze tersebut secara berbeda. Ketiga, pengumuman
eksklusi MSCI 13 Mei 2026 memberikan bukti langsung efek yang tajam dan
berkelanjutan: AAR sebesar ?10,2% pada spesifikasi utama pada T = 0, dengan
CAAR memburuk menjadi ?56,5% pada T+5, mencapai titik terdalam ?76,0%
pada T+7, sebelum mereda menjadi ?41,0% pada T+10, dikuatkan oleh spesifikasi
sektoral (?9,3% menjadi ?25,0%) dan komposit (?8,9% menjadi ?27,8%).
Keempat, kajian tata kelola mengidentifikasi empat kesenjangan yang saling
memperkuat, yaitu kesenjangan deteksi pengawasan, institutional stewardship, tata
kelola administrasi benchmark, dan informasi-perilaku investor ritel. Penelitian ini
mengusulkan empat mekanisme pelengkap bagi OJK, yaitu BENS, Institutional
Stewardship Code, Benchmark Administrator Regulation, serta Framing,
Disclosure, and Retail Literacy Reform.
Perpustakaan Digital ITB