digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini mengkaji pola abnormal return yang terkait dengan peristiwa rekonstitusi indeks MSCI di Indonesia serta implikasinya terhadap tata kelola benchmark dan kebijakan pasar modal, dilatarbelakangi oleh meningkatnya pengaruh indeks acuan global terhadap arus modal, perilaku investor, dan valuasi di pasar negara berkembang dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi. Berlandaskan pada Market Microstructure Theory sebagai lensa analitis, bersama Efficient Market Hypothesis, Behavioral Finance, dan Teori Investasi dan Manajemen Portofolio, penelitian ini menggunakan studi peristiwa tiga lapis terhadap lima saham Indonesia yang terafiliasi konglomerasi, menggunakan MSCI Indonesia Index sebagai benchmark utama dan indeks komposit serta sektoral sebagai spesifikasi pendukung, dilengkapi dengan analisis peristiwa eksklusi dan kajian tata kelola komparatif, untuk menilai apakah abnormal return terkait MSCI mencerminkan price pressure atau strategic pre-positioning. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, peristiwa inklusi MSCI menghasilkan CAAR pra-pengumuman sebesar +72,9% pada spesifikasi utama MSCI Indonesia Index (t = 5,618, ? = 0,01) selama 120 hari, dikuatkan oleh spesifikasi komposit (+54,4%, ? = 0,10) dan sektoral (+49,9%), sementara peristiwa standar tidak menghasilkan CAAR positif yang berkelanjutan, lebih konsisten dengan strategic pre-positioning dibanding price pressure. Kedua, interim freeze MSCI Januari 2026 yang digunakan sebagai proksi eksklusi menghasilkan reaksi negatif yang persisten pada spesifikasi utama tanpa pemulihan, sementara spesifikasi komposit dan sektoral hanya menunjukkan respons negatif jangka pendek yang diikuti pemulihan, mengindikasikan modal domestik dan modal internasional menafsirkan freeze tersebut secara berbeda. Ketiga, pengumuman eksklusi MSCI 13 Mei 2026 memberikan bukti langsung efek yang tajam dan berkelanjutan: AAR sebesar ?10,2% pada spesifikasi utama pada T = 0, dengan CAAR memburuk menjadi ?56,5% pada T+5, mencapai titik terdalam ?76,0% pada T+7, sebelum mereda menjadi ?41,0% pada T+10, dikuatkan oleh spesifikasi sektoral (?9,3% menjadi ?25,0%) dan komposit (?8,9% menjadi ?27,8%). Keempat, kajian tata kelola mengidentifikasi empat kesenjangan yang saling memperkuat, yaitu kesenjangan deteksi pengawasan, institutional stewardship, tata kelola administrasi benchmark, dan informasi-perilaku investor ritel. Penelitian ini mengusulkan empat mekanisme pelengkap bagi OJK, yaitu BENS, Institutional Stewardship Code, Benchmark Administrator Regulation, serta Framing, Disclosure, and Retail Literacy Reform.