digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pasar pakaian di Indonesia merupakan kontributor ekonomi yang signifikan, namun bisnis keluarga tradisional di sektor ini menghadapi tantangan besar dalam beradaptasi dengan lanskap digital yang berkembang pesat. Penelitian ini meneliti strategi digitalisasi pada CV XYZ, sebuah bisnis keluarga generasi kedua yang bergerak di bidang aksesoris garmen yang mengalami stagnasi penjualan, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan hanya sebesar 3,9% dari tahun 2021 hingga 2024. Meskipun penetrasi pasar e-commerce di Indonesia diproyeksikan tumbuh hingga 34,84% pada tahun 2029, CV XYZ masih bergantung sepenuhnya pada toko fisik dan promosi dari mulut ke mulut, sehingga gagal menangkap peluang yang ditawarkan oleh platform digital. Masalah ilmiah yang diangkat dalam studi ini adalah kesenjangan kritis antara keinginan organisasi untuk melakukan modernisasi dan kurangnya kapabilitas internal, khususnya ketiadaan keterampilan digital, alur kerja yang terstruktur, dan kepemimpinan yang efektif. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat kesiapan organisasi saat ini untuk digitalisasi di CV XYZ dan mengusulkan inisiatif komprehensif untuk mendukung implementasi adopsi e-commerce dan media sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, studi ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan pemilik dan karyawan untuk menilai kesiapan, diikuti dengan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) untuk memvalidasi inisiatif yang diusulkan. Kerangka teoritis menggunakan teori Kesiapan Organisasi untuk Perubahan dari Weiner untuk menganalisis kondisi saat ini, dan Model Bintang (Star Model) dari Galbraith untuk merancang solusi bisnis. Analisis tematik data mengungkapkan kondisi organisasi yang spesifik: meskipun CV XYZ memiliki valensi perubahan (change valence) yang tinggi, yang berarti para pemangku kepentingan sangat menghargai manfaat digitalisasi dan berkomitmen pada gagasan tersebut, organisasi ini memiliki efikasi perubahan (change efficacy) yang rendah. Rendahnya efikasi ini disebabkan oleh hambatan signifikan, termasuk gaya kepemimpinan otokratis di mana pemilik membuat semua keputusan, kurangnya keterampilan digital khusus di kalangan karyawan, dan struktur organisasi informal yang mengakibatkan ambiguitas peran dan budaya saling menyalahkan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan solusi bisnis akhir yang disusun berdasarkan lima komponen Model Bintang: Strategi, Struktur, Proses, Penghargaan (Rewards), dan Orang (People). Strategi berfokus pada penggunaan platform digital bukan untuk menggantikan, tetapi untuk melengkapi toko fisik, sehingga menciptakan keunggulan kompetitif melalui perluasan pasar. Secara struktural, penelitian ini merekomendasikan peralihan dari model terpusat ke struktur fungsional yang memperkenalkan "Manajer Operasional Digital" baru untuk mengawasi e-commerce, media sosial, dan akuntansi, bersama dengan "Supervisor Penjualan" khusus produk. Dalam hal proses, studi ini memisahkan alur kerja pemasaran online dari aktivitas penjualan tradisional untuk memastikan fokus operasional. Komponen "Orang" menekankan pergeseran menuju kepemimpinan transformasional untuk mendorong keterlibatan karyawan dan program pelatihan "belajar sambil bekerja" (learning-by-doing) untuk menjembatani kesenjangan keterampilan. Terakhir, komponen "Penghargaan" memperkenalkan sistem insentif berbasis kinerja yang dikaitkan dengan Indikator Kinerja Utama (KPI) untuk menyelaraskan motivasi karyawan dengan tujuan organisasi. Penelitian ini diakhiri dengan rencana implementasi rinci yang dijadwalkan untuk tahun fiskal 2026, yang dibagi menjadi fase Inisiasi, Persiapan, Peluncuran, dan Struktur Organisasi. Kontribusi dari penelitian ini terletak pada penyediaan peta jalan yang dapat disesuaikan dan ditindaklanjuti bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tradisional yang memiliki kemauan untuk berubah tetapi tidak memiliki kesiapan struktural untuk melakukannya. Dengan mengatasi nuansa spesifik dinamika bisnis keluarga—seperti gaya kepemimpinan dan struktur informal— studi ini menunjukkan bagaimana kerangka kerja teoritis yang mapan dapat diterapkan secara praktis untuk mentransisikan perusahaan tradisional menjadi organisasi yang terintegrasi secara digital, yang pada akhirnya bertujuan untuk memutus siklus stagnasi penjualan dan memastikan keberlanjutan jangka panjang.