ABSTRAK Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Theresia Sinintaro Siahaan
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Kampung Batik Kauman di Kota Pekalongan merupakan klaster industri batik
berbasis warisan budaya yang kini dihadapkan pada tuntutan transisi menuju
ekonomi sirkular. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk penerapan
praktik ekonomi sirkular berdasarkan prinsip 9R, mengevaluasi kesiapan klaster
dalam bertransisi, serta menganalisis faktor pendorong dan penghambat yang
mempengaruhinya. Analisis dilakukan menggunakan tiga kerangka terintegrasi,
yaitu prinsip 9R, kerangka kinerja klaster Razminien? (2021), serta Institutional
Isomorphism dan Contextual Interaction Theory. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pelaku IKM telah menerapkan sejumlah prinsip sirkular secara intuitif dan
organik, meskipun tanpa pemahaman konseptual yang memadai. Dari 20 IKM,
hanya 9 yang memiliki skor penerapan 9R di atas nol, sementara prinsip Refuse dan
Recover belum diterapkan akibat keterbatasan yang ada. Evaluasi kesiapan klaster
mengungkap kondisi yang lemah di seluruh dimensi, dengan klaster dikategorikan
pada level Reactive dengan indikasi awal menuju Proactive. Faktor penghambat
utama terletak pada rendahnya kapasitas kognitif dan belum optimalnya tekanan
regulatif maupun normatif, sedangkan motivasi intrinsik pelaku usaha menjadi
potensi utama yang dapat dikembangkan. Temuan ini memberikan kontribusi
terhadap pengembangan strategi intervensi yang lebih kontekstual dan berlapis,
dengan rekomendasi prioritas yaitu penguatan kapasitas pengetahuan ekonomi
sirkular, optimalisasi peran paguyuban, serta pengembangan regulasi dan
pembiayaan kolektif yang lebih inklusif untuk mendukung transisi klaster menuju
ekonomi sirkular.
Perpustakaan Digital ITB