digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Slamet Wiyono
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Peningkatan transportasi kelembapan atmosfer (moisture transport) telah dikaitkan dengan pembentukan curah hujan ekstrem di Indonesia. Namun, selama periode transisi, besaran dan jalur moisture transport dapat berubah dengan cepat, sehingga semakin sulit untuk dipantau dan diprediksi. Dalam penelitian ini, kriteria statistik untuk kejadian curah hujan ekstrem dikembangkan dan pola transportasi kelembapan selama kejadian tersebut diselidiki. Dengan menggunakan data curah hujan harian dari 63 stasiun di seluruh Pulau Sumatra dan Jawa, kejadian curah hujan ekstrem didefinisikan secara regional menggunakan persentil ke-98 (P98) dari semua sampel gabungan. Kejadian curah hujan ekstrem (extreme rainfall events) kemudian diidentifikasi di setiap lokasi dengan menggunakan nilai P98 sebagai ambang batas. Berdasarkan hari-hari curah hujan ekstrem dalam jendela ±2 hari, peristiwa diklasifikasikan menjadi tiga jenis: Isolated, Semi-Isolated, dan Non- Isolated. Selain itu, periode transisi musiman diidentifikasi berdasarkan klimatologi Integrated Moisture Flux Transport (IMFT) menggunakan agglomerative hierarchical clustering. Perubahan transportasi kelembapan kemudian dianalisis menggunakan model WAM2Layers dengan pelacakan mundur (backward) kelembapan selama 14 hari untuk kasus-kasus terpilih. Dengan mengembangkan Indeks Isolasi Berbobot (Weighted Isolation Index / WII), tipe kejadian curah hujan ekstrem (extreme rainfall events / ERE) Isolated, Semi- Isolated, dan Non-Isolated. dapat diidentifikasi dengan baik. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar peristiwa curah hujan ekstrem (89,11%) termasuk dalam jenis Isolated tanpa membedakan dari musimnya. Pola transportasi kelembapan yang terkait dengan ketiga tipe curah hujan ekstrem tersebut diteliti untuk 12 peristiwa terpilih selama transisi musim. Hasil analisis WAM2Layers menunjukkan bahwa kejadian curah hujan ekstrem tipe Isolated cenderung memiliki sumber kelembapan dari satu wilayah sumber dominan, sedangkan Semi-Isolated, dan Non- Isolated memiliki sumber kelembapan dari wilayah yang lebih beragam. Tiga dari 12 kejadian tersebut diteliti lebih lanjut untuk menganalisis perubahan dalam besaran dan arah dari klimatologinya. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan IMFT selama kejadian curah hujan ekstrem disebabkan oleh penyimpangan signifikan dalam hal amplifikasi besaran dan/atau perubahan arah dari pola klimatologis. Hal ini menyiratkan bahwa metode diagnostik dan prognostik untuk kejadian curah hujan ekstrem dapat dikembangkan dengan memantau evolusi besaran dan arah transportasi kelembapan di sekitar wilayah yang menjadi fokus dalam analisis skala sinoptik.