digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pada Oktober 2023, konflik Israel-Palestina memicu kembali boikot terhadap perusahaan minuman multinasional (selanjutnya dikenali sebagai Perusahaan). Respons Perusahaan terhadap boikot tersebut masih terbatas, menunjukkan bahwa mereka mempertahankan netralitas dan status quo. Indonesia, pasar pro-Palestina dengan mayoritas Muslim, menderita dampaknya, terbukti dari penurunan penjualan yang berkelanjutan setidaknya selama tiga kuartal berturut-turut pada tahun 2024. Penelitian yang ada mengenai respons perusahaan terhadap boikot makro di Indonesia masih terbatas, dengan sebagian besar studi berfokus pada reaksi konsumen. Studi ini mengkaji bagaimana pelanggan memandang sikap diam strategis Perusahaan dan mengusulkan strategi yang lebih baik yang mungkin memberikan hasil yang lebih baik. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sekuensial eksploratif. Baik studi kuantitatif maupun kualitatif dirancang sesuai dengan respons strategis Al-Shebil (Asosiasi Merek-Negara dan Intensitas Boikot) yang dikombinasikan dengan tindakan taktis Grundmann dan Nilsson (Komunikasi, Pemasaran & Operasi, Manajemen Pemangku Kepentingan, dan Strategi Internal). Responden survei adalah distributor grosir Perusahaan untuk menangkap persepsi pelanggan. Fase kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan manajer distributor grosir untuk menjelaskan temuan awal dari fase kuantitatif. Studi ini menemukan bahwa sikap diam strategis Perusahaan yang dianalisis melalui tindakan taktis Grundmann dan Nilsson tidak efektif dalam mengurangi dampak boikot. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi perusahaan multinasional yang menghadapi boikot sosial-politik serupa. Penelitian ini memberikan implementasi praktis bagi bisnis untuk mengembangkan respons boikot adaptif yang menanggapi tekanan pasar langsung dan keberlanjutan merek jangka panjang.