Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya potensi bahaya fenomena wind gust
di berbagai bidang kehidupan. Meskipun wilayah Indonesia memiliki tingkat
aktivitas badai yang tinggi, pemetaan risiko angin ekstrem yang secara spesifik
memisahkan tipe wind gust konvektif dan non-konvektif belum banyak dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik frekuensi kejadian angin
secara spasial maupun temporal, serta mengklasifikasikan kejadian wind gust
konvektif dengan berfokus pada jejak termodinamika permukaan dan keberadaan
sel awan konvektif.
Metodologi yang digunakan mengintegrasikan data Automatic Weather Station
(AWS), radar cuaca Doppler, dan laporan observasi METAR/SPECI pada periode
tahun 2021 hingga 2024. Data AWS yang telah melalui serangkaian uji kendali
mutu digunakan untuk mengidentifikasi kejadian wind gust sesuai kriteria ambang
batas, yang kemudian divalidasi menggunakan laporan METAR/SPECI.
Pengklasifikasian fenomena angin ke dalam tipe konvektif dan non-konvektif
dilakukan melalui metode perhitungan gust factor. Selanjutnya, data citra radar
cuaca digunakan untuk memvalidasi keberadaan awan Cumulonimbus secara
spasial pada radius berlapis hingga 50 km dari titik bandara, disertai dengan analisis
deret waktu pada parameter termodinamika (suhu dan tekanan udara) saat
fenomena berlangsung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik wind gust di Bandara Soekarno
Hatta secara absolut dikendalikan oleh sistem konvektif. Dari total 100 kejadian
ekstrem yang teridentifikasi, metode gust factor berhasil mengklasifikasikan 97
kejadian sebagai wind gust konvektif dan hanya 3 kejadian bertipe non-konvektif.
Secara temporal, siklus diurnal menunjukkan bahwa frekuensi kejadian wind gust
konvektif memuncak secara tajam pada rentang siang hingga sore hari (14:00 dan
17:00 WIB), serta secara musiman didominasi pada periode DJF (Desember
Januari -Februari). Analisis spasial mengungkapkan bahwa 54,6% kejadian wind
gust konvektif terdeteksi bersamaan dengan keberadaan sel awan dalam radius 0
50 km, dengan hempasan paling destruktif terjadi saat badai matang berada di jarak
dekat (0–10 km).
Perpustakaan Digital ITB