digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Muhammad Hidayat
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya potensi bahaya fenomena wind gust di berbagai bidang kehidupan. Meskipun wilayah Indonesia memiliki tingkat aktivitas badai yang tinggi, pemetaan risiko angin ekstrem yang secara spesifik memisahkan tipe wind gust konvektif dan non-konvektif belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik frekuensi kejadian angin secara spasial maupun temporal, serta mengklasifikasikan kejadian wind gust konvektif dengan berfokus pada jejak termodinamika permukaan dan keberadaan sel awan konvektif. Metodologi yang digunakan mengintegrasikan data Automatic Weather Station (AWS), radar cuaca Doppler, dan laporan observasi METAR/SPECI pada periode tahun 2021 hingga 2024. Data AWS yang telah melalui serangkaian uji kendali mutu digunakan untuk mengidentifikasi kejadian wind gust sesuai kriteria ambang batas, yang kemudian divalidasi menggunakan laporan METAR/SPECI. Pengklasifikasian fenomena angin ke dalam tipe konvektif dan non-konvektif dilakukan melalui metode perhitungan gust factor. Selanjutnya, data citra radar cuaca digunakan untuk memvalidasi keberadaan awan Cumulonimbus secara spasial pada radius berlapis hingga 50 km dari titik bandara, disertai dengan analisis deret waktu pada parameter termodinamika (suhu dan tekanan udara) saat fenomena berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik wind gust di Bandara Soekarno Hatta secara absolut dikendalikan oleh sistem konvektif. Dari total 100 kejadian ekstrem yang teridentifikasi, metode gust factor berhasil mengklasifikasikan 97 kejadian sebagai wind gust konvektif dan hanya 3 kejadian bertipe non-konvektif. Secara temporal, siklus diurnal menunjukkan bahwa frekuensi kejadian wind gust konvektif memuncak secara tajam pada rentang siang hingga sore hari (14:00 dan 17:00 WIB), serta secara musiman didominasi pada periode DJF (Desember Januari -Februari). Analisis spasial mengungkapkan bahwa 54,6% kejadian wind gust konvektif terdeteksi bersamaan dengan keberadaan sel awan dalam radius 0 50 km, dengan hempasan paling destruktif terjadi saat badai matang berada di jarak dekat (0–10 km).