digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Amira Tzary Sholihat Salma
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Marine heatwaves (MHWs) merupakan kejadian suhu laut ekstrem yang melampaui ambang batas persentil ke-90 klimatologi selama setidaknya lima hari berturut-turut. Perairan selatan Jawa menjadi wilayah penting untuk dikaji karena merupakan salah satu hotspot kejadian MHWs di Indonesia. Meskipun demikian, kajian MHWs masih didominasi oleh analisis kondisi permukaan laut, sehingga karakteristik dan evolusi vertikal pada lapisan bawah permukaan selama kejadian MHWs belum banyak dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan tipe evolusi vertikal MHWs serta mengidentifikasi karakteristik kondisi fisis laut dan atmosfer yang menyertai setiap tipe di perairan selatan Jawa selama periode 1996–2025. MHWs diidentifikasi menggunakan ambang batas persentil ke-90 klimatologi harian dengan durasi minimum lima hari berturut-turut. Selanjutnya, tren jangka panjangnya dianalisis, lalu diklasifikasikan berdasarkan evolusi waktu–kedalaman anomali suhu potensial menggunakan metode K-Means Clustering, serta dianalisis evolusi kondisi laut dan atmosfer selama 30 hari sebelum hingga 30 hari setelah intensitas tertinggi MHWs. Hasil klasifikasi menghasilkan tiga tipe evolusi vertikal, yaitu Tipe A yang dicirikan oleh pemanasan pada lapisan permukaan dan anomali dingin di bawah permukaan, Tipe B dengan pemanasan yang terintensifikasi pada lapisan bawah permukaan, serta Tipe C dengan pemanasan kuat yang menjangkau lapisan lebih dalam. Tipe A lebih dominan di wilayah lepas pantai, Tipe B lebih dominan di wilayah pesisir, sedangkan Tipe C merupakan tipe yang paling jarang dijumpai di kedua wilayah. Meskipun demikian, Tipe C menunjukkan durasi dan intensitas kumulatif tertinggi. Secara musiman, Tipe A terkonsentrasi pada musim barat hingga Peralihan I, Tipe B relatif tersebar sepanjang tahun, sedangkan Tipe C terkonsentrasi pada musim timur hingga Peralihan II. Analisis komposit menunjukkan bahwa setiap tipe memiliki evolusi kondisi laut–atmosfer yang berbeda. Tipe A berkembang bersama pelemahan kecepatan angin yang lebih kuat, suhu permukaan laut (SPL) yang relatif lebih rendah, serta outgoing longwave radiation (OLR) yang lebih positif dibandingkan Tipe B dan Tipe C. Sebaliknya, Tipe C berkembang bersama SPL tertinggi, OLR yang lebih negatif, dan perubahan mixed layer depth (MLD) yang lebih besar, sedangkan Tipe B menunjukkan karakteristik transisi di antara kedua tipe tersebut.