Marine heatwaves (MHWs) merupakan kejadian suhu laut ekstrem yang
melampaui ambang batas persentil ke-90 klimatologi selama setidaknya lima hari
berturut-turut. Perairan selatan Jawa menjadi wilayah penting untuk dikaji karena
merupakan salah satu hotspot kejadian MHWs di Indonesia. Meskipun demikian,
kajian MHWs masih didominasi oleh analisis kondisi permukaan laut, sehingga
karakteristik dan evolusi vertikal pada lapisan bawah permukaan selama kejadian
MHWs belum banyak dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
karakteristik dan tipe evolusi vertikal MHWs serta mengidentifikasi karakteristik
kondisi fisis laut dan atmosfer yang menyertai setiap tipe di perairan selatan Jawa
selama periode 1996–2025. MHWs diidentifikasi menggunakan ambang batas
persentil ke-90 klimatologi harian dengan durasi minimum lima hari berturut-turut.
Selanjutnya, tren jangka panjangnya dianalisis, lalu diklasifikasikan berdasarkan
evolusi waktu–kedalaman anomali suhu potensial menggunakan metode K-Means
Clustering, serta dianalisis evolusi kondisi laut dan atmosfer selama 30 hari
sebelum hingga 30 hari setelah intensitas tertinggi MHWs. Hasil klasifikasi
menghasilkan tiga tipe evolusi vertikal, yaitu Tipe A yang dicirikan oleh pemanasan
pada lapisan permukaan dan anomali dingin di bawah permukaan, Tipe B dengan
pemanasan yang terintensifikasi pada lapisan bawah permukaan, serta Tipe C
dengan pemanasan kuat yang menjangkau lapisan lebih dalam. Tipe A lebih
dominan di wilayah lepas pantai, Tipe B lebih dominan di wilayah pesisir,
sedangkan Tipe C merupakan tipe yang paling jarang dijumpai di kedua wilayah.
Meskipun demikian, Tipe C menunjukkan durasi dan intensitas kumulatif tertinggi.
Secara musiman, Tipe A terkonsentrasi pada musim barat hingga Peralihan I, Tipe
B relatif tersebar sepanjang tahun, sedangkan Tipe C terkonsentrasi pada musim
timur hingga Peralihan II. Analisis komposit menunjukkan bahwa setiap tipe
memiliki evolusi kondisi laut–atmosfer yang berbeda. Tipe A berkembang bersama
pelemahan kecepatan angin yang lebih kuat, suhu permukaan laut (SPL) yang
relatif lebih rendah, serta outgoing longwave radiation (OLR) yang lebih positif
dibandingkan Tipe B dan Tipe C. Sebaliknya, Tipe C berkembang bersama SPL
tertinggi, OLR yang lebih negatif, dan perubahan mixed layer depth (MLD) yang
lebih besar, sedangkan Tipe B menunjukkan karakteristik transisi di antara kedua
tipe tersebut.
Perpustakaan Digital ITB