digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Suksesi merupakan proses pemulihan vegetasi secara alami setelah gangguan yang ditandai oleh perubahan komposisi spesies dan kondisi lingkungan. Perubahan tersebut dapat memengaruhi karakteristik fungsional tumbuhan melalui leaf functional traits (LFT), yaitu karakteristik morfologi, anatomi, dan fisiologi daun yang mencerminkan strategi tumbuhan dalam memperoleh dan memanfaatkan sumber daya pada tingkat spesies maupun komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi vegetasi pohon serta menganalisis pola community-weighted mean (CWM), serta variasi interspesifik dan intraspesifik LFT sepanjang tahapan suksesi pascagangguan perambahan oleh lahan pertanian di Cagar Alam Gunung Papandayan, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada tiga tahap suksesi, yaitu belukar muda (10-15 tahun), belukar tua (20-25 tahun), dan hutan primer sebagai lokasi referensi. Analisis vegetasi semai, pancang, tiang, dan pohon secara urut menggunakan metode plot bertingkat berukuran 1×1 m, 2×2 m, 5×5 m, dan 10×10 m dengan output berupa indeks nilai penting (INP), serta indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H'), Dominansi Simpson (D), dan kesamaan Jaccard (J) untuk mengukur dinamika dan komposisi vegetasi pohon. LFT yang meliputi specific leaf area (SLA), leaf dry matter content (LDMC), leaf thickness (LT), leaf water content (LWC), kandungan klorofil, dan densitas stomata diukur pada daun dewasa dan sehat dari pohon dengan DBH >5cm, kemudian dianalisis pada tingkat komunitas menggunakan pendekatan CWM serta pada tingkat intraspesifik dan interspesifik. Sebanyak 103 individu dari 20 spesies ditemukan dengan keanekaragaman spesies yang meningkat dari belukar muda (H' = 1,282), belukar tua (H' = 1,789) dan hutan (H' = 2,046). Perubahan struktur komunitas ditunjukkan oleh pergeseran spesies dominan berdasarkan nilai INP dari dominasi spesies pionir pada belukar muda menuju dominasi spesies toleran naungan pada ekosistem hutan. Peningkatan tutupan kanopi (84%, 88,5%, dan 97,4%) serta penurunan intensitas cahaya (12.061, 8.894, dan 3.375 lux) dari belukar muda, belukar tua, hingga hutan memengaruhi komposisi vegetasi pohon dan pola LFT. Variasi interspesifik mencerminkan perbedaan strategi antarspesies dalam merespons lingkungan, sedangkan variasi intraspesifik menunjukkan plastisitas fenotipik terhadap perubahan ketersediaan cahaya. Hasil penelitian menunjukkan perubahan komposisi vegetasi pohon pada ekosistem yang bersuksesi memengaruhi karakteristik fungsional melalui perubahan kondisi lingkungan, yang ditunjukkan oleh pola CWM LFT serta variasi intraspesifik dan interspesifik pada setiap tahap suksesi.