Abstrak - BITHAYA ANANDAMULYO
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Integrated Sensing and Communication (ISAC) menjadi arah pengembangan
jaringan nirkabel masa depan untuk mendukung keselamatan kendaraan terhubung
pada pita Intelligent Transport System (ITS) 5,9 GHz. Namun, mayoritas penelitian
literatur saat ini masih terbatas pada simulasi atau pengoptimalan kualitas sensing.
Karakterisasi kelayakan link komunikasi pada implementasi fisik
berbasis Software-Defined Radio (SDR) belum banyak dilakukan secara terukur.
Akibatnya, keterbatasan perangkat keras seperti Carrier Frequency Offset (CFO),
risiko overflow, dan gangguan transien awal belum terpetakan dengan akurat
karena fenomena non-ideal tersebut tidak muncul pada model simulasi.
Tugas akhir ini mengkarakterisasi dan mengevaluasi kinerja link komunikasi
OFDM berbasis dua SDR pada pita 5,9 GHz sebagai platform pendukung ISAC.
Penelitian difokuskan pada validasi awal lapisan fisik melalui
konfigurasi infrastruktur-ke-infrastruktur (I2I), sebelum diterapkan pada skenario
V2X dengan mobilitas kendaraan sesungguhnya. Platform ini menggunakan
waveform OFDM dengan struktur frame diadopsi dari IEEE 802.11a, memadukan
modulasi QPSK untuk subcarrier komunikasi dan BPSK untuk subcarrier sensing.
Pengujian menggunakan unit B210-compatible sebagai pemancar dan LibreSDR
B210mini sebagai penerima dengan jarak antarperangkat 55 cm. Sisi penerima
memproses sinyal melalui tahapan coarse timing, estimasi dan koreksi CFO
berbasis autocorrelation, fine timing, estimasi kanal, ekualisasi zero-forcing, serta
verifikasi menggunakan CRC16. Keandalan demodulasi ditingkatkan melalui
metode pemilihan diantara beberapa kandidat posisi frame dan validation gating
untuk menyaring kegagalan sinkronisasi. Berdasarkan evaluasi awal, perbaikan
pada rantai sinkronisasi ini terbukti efektif mengatasi kesalahan penerimaan sinyal
sehingga penggunaan filter mitigasi self-interference tambahan tidak diperlukan.
Karakterisasi performa platform dilakukan melalui skenario kestabilan jangka
panjang, variasi sampling rate, kondisi awal perangkat, konsistensi antar-sesi, serta
pengaruh kehadiran target pada berbagai variasi jarak dan posisi penerima berbasis
analisis data per frame.
Hasil pengujian menunjukkan link komunikasi bersifat stabil dan dapat
direproduksi secara konsisten. Pada kondisi tunak, link mencapai Packet Reception
Rate (PRR) 99,99% dengan Error Vector Magnitude (EVM) rata-rata ?12,77 dB
ii
yang memenuhi ambang batas keberhasilan QPSK menurut acuan IEEE 802.11a
serta koefisien variasi amplitudo sebesar 0,34%. Peningkatan sampling
rate memperburuk EVM secara linier dan memicu overflow dengan batas operasi
praktis pada 42 MHz sebelum overflow menjadi dominan pada 45 MHz.
Berdasarkan fenomena tersebut, nilai 40 MHz dipilih sebagai titik kerja optimal
untuk menyeimbangkan kebutuhan bandwidth sensing dan keandalan link. Kondisi
awal perangkat menimbulkan efek transien amplitudo singkat, sementara
pergeseran EVM dan CFO tetap minimal. Oleh karena itu, platform memerlukan
periode pemanasan berupa pembuangan 500 frame awal agar pengukuran bersifat
representatif. Konsistensi performa tetap terjaga antar-sesi pengujian serta dalam
kondisi kehadiran target statis pada berbagai variasi jarak. Namun, penurunan PRR
yang lebih dalam terdeteksi pada skenario dengan target bergerak dinamis.
Terakhir, penggunaan memori puncak hanya tercatat sebesar 1,56 GiB sehingga
platform ini dapat dioperasikan secara efisien pada komputer standar tanpa
memerlukan akselerator GPU.
Penelitian ini menghasilkan luaran berupa platform uji, dataset komunikasi
terkarakterisasi, prosedur operasi baku, serta rekomendasi konfigurasi yang dapat
dimanfaatkan secara langsung. Keandalan link komunikasi berhasil dicapai melalui
penanganan sinkronisasi yang tepat dan arsitektur akuisisi yang sederhana tanpa
menambah kompleksitas pada lapisan waveform. Dengan demikian, platform ini
menjadi dasar yang teruji untuk pengembangan subsistem sensing dan sistem
ISAC-V2X lanjutan.
Perpustakaan Digital ITB