digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menunjukkan komitmen transisi energi melalui instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai stasiun dan fasilitas operasional, namun gedung Kantor Pusat di Bandung yang berfungsi sebagai pusat administratif belum terintegrasi dengan sistem energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kelayakan teknis, keekonomian, serta dampak lingkungan dari rencana implementasi sistem PLTS atap grid di Kantor Pusat PT KAI. Kompleks bangunan ini memiliki total daya terpasang 949,5 kVA yang terbagi ke dalam tujuh titik pengukuran IDPEL. Pemodelan performa teknis per jam (8.760 titik) dievaluasi menggunakan perangkat lunak PVsyst dengan memadukan data meteorologi TMY Meteonorm 8.1 dan profil beban sintetis. Akibat regulasi Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 yang menghapus skema net-metering (kebijakan zero-export), perancangan kapasitas berbasis beban puncak menghasilkan ketidakselarasan (mismatch) dengan tingkat energi tidak terpakai (unused energy) yang tinggi (30,8%–37,2%). Oleh karena itu, optimasi kapasitas dilakukan menggunakan pendekatan nonlinear berbasis nilai Levelized Cost of Energy (LCOE) minimum. Analisis keekonomian dilakukan melalui simulasi sensitivitas multi-skenario selama 25 tahun masa pakai proyek dengan mempertimbangkan probabilitas produksi cuaca (P50 dan P90). Pada analisa base case (Tingkat Diskonto 10,9%, Inflasi 2,8%), ketujuh IDPEL dinyatakan sangat layak dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) melampaui ambang batas (11,77%–16,42%), Net Present Value (NPV) positif, dan LCOE (Rp1.100,35– Rp1.279,70/kWh) berada di bawah Tarif Dasar Listrik (TDL) PLN. Pada analisa moderate case P90, IDPEL 7 mulai bergeser menjadi tidak layak akibat kenaikan inflasi dan pelemahan kurs. Pada analisa worst case P90 (Inflasi 5,95%, Kurs Rp19.250/USD), terjadi kegagalan finansial total di seluruh titik investasi karena nilai LCOE melampaui harga listrik PLN. Dari aspek finansial, implementasi konfigurasi optimal ini diproyeksikan mampu memberikan potensi penghematan tagihan listrik kumulatif bagi korporasi selama 25 tahun masa pakai proyek sebesar Rp13,61 miliar pada probabilitas P50 dan Rp12,61 miliar pada probabilitas P90. Dari aspek lingkungan, implementasi konfigurasi optimal ini mampu mereduksi emisi karbon dioksida korporasi sebesar 7.445,91 Ton CO? pada probabilitas P50 dan 6.893,31 Ton CO? pada probabilitas P90 selama siklus hidup proyek.