PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menunjukkan komitmen transisi energi
melalui instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai stasiun dan
fasilitas operasional, namun gedung Kantor Pusat di Bandung yang berfungsi
sebagai pusat administratif belum terintegrasi dengan sistem energi terbarukan.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kelayakan teknis, keekonomian, serta
dampak lingkungan dari rencana implementasi sistem PLTS atap grid di Kantor
Pusat PT KAI. Kompleks bangunan ini memiliki total daya terpasang 949,5 kVA
yang terbagi ke dalam tujuh titik pengukuran IDPEL. Pemodelan performa teknis
per jam (8.760 titik) dievaluasi menggunakan perangkat lunak PVsyst dengan
memadukan data meteorologi TMY Meteonorm 8.1 dan profil beban sintetis.
Akibat regulasi Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 yang menghapus
skema net-metering (kebijakan zero-export), perancangan kapasitas berbasis beban
puncak menghasilkan ketidakselarasan (mismatch) dengan tingkat energi tidak
terpakai (unused energy) yang tinggi (30,8%–37,2%). Oleh karena itu, optimasi
kapasitas dilakukan menggunakan pendekatan nonlinear berbasis nilai Levelized
Cost of Energy (LCOE) minimum. Analisis keekonomian dilakukan melalui
simulasi sensitivitas multi-skenario selama 25 tahun masa pakai proyek dengan
mempertimbangkan probabilitas produksi cuaca (P50 dan P90). Pada analisa base
case (Tingkat Diskonto 10,9%, Inflasi 2,8%), ketujuh IDPEL dinyatakan sangat
layak dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) melampaui ambang batas
(11,77%–16,42%), Net Present Value (NPV) positif, dan LCOE (Rp1.100,35–
Rp1.279,70/kWh) berada di bawah Tarif Dasar Listrik (TDL) PLN. Pada analisa
moderate case P90, IDPEL 7 mulai bergeser menjadi tidak layak akibat kenaikan
inflasi dan pelemahan kurs. Pada analisa worst case P90 (Inflasi 5,95%, Kurs
Rp19.250/USD), terjadi kegagalan finansial total di seluruh titik investasi karena
nilai LCOE melampaui harga listrik PLN. Dari aspek finansial, implementasi
konfigurasi optimal ini diproyeksikan mampu memberikan potensi penghematan
tagihan listrik kumulatif bagi korporasi selama 25 tahun masa pakai proyek sebesar
Rp13,61 miliar pada probabilitas P50 dan Rp12,61 miliar pada probabilitas P90.
Dari aspek lingkungan, implementasi konfigurasi optimal ini mampu mereduksi
emisi karbon dioksida korporasi sebesar 7.445,91 Ton CO? pada probabilitas P50
dan 6.893,31 Ton CO? pada probabilitas P90 selama siklus hidup proyek.
Perpustakaan Digital ITB