Daerah Khusus Jakarta menghadapi permasalahan transportasi perkotaan berupa
tingginya penggunaan kendaraan pribadi, kemacetan lalu lintas, serta rendahnya
proporsi perjalanan menggunakan angkutan umum. Meskipun Bus Rapid Transit
(BRT) Transjakarta telah berkembang menjadi sistem angkutan umum berbasis
jalan terbesar di Indonesia, efektivitasnya dalam mendorong peralihan moda masih
dipengaruhi oleh tingkat aksesibilitas layanan dan preferensi perjalanan
masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Transport Demand
Management (TDM) berdasarkan aksesibilitas dan preferensi perjalanan commuter
dalam penggunaan BRT di Daerah Khusus Jakarta. Secara khusus, penelitian ini
menganalisis konektivitas jaringan jalan, aksesibilitas halte BRT dan feeder
terhadap asal–tujuan perjalanan, preferensi perjalanan pengguna BRT, serta
merumuskan strategi TDM yang dapat meningkatkan penggunaan angkutan umum
berbasis jalan.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan paradigma positivistik.
Data diperoleh melalui survei terhadap 410 responden commuter di Daerah Khusus
Jakarta. Analisis dilakukan menggunakan metode Space Syntax untuk
mengidentifikasi tingkat konektivitas dan integrasi jaringan jalan, metode
Isochrone dan Service Area untuk mengevaluasi aksesibilitas halte BRT dan feeder,
serta Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk
menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi perjalanan. Selanjutnya,
strategi TDM disusun menggunakan analisis SWOT yang didukung matriks IFAS,
EFAS, dan TOWS.
Hasil analisis Space Syntax menunjukkan bahwa sebagian besar koridor BRT
Transjakarta berada pada ruas jalan dengan tingkat konektivitas dan integrasi yang
tinggi, khususnya pada kawasan Jakarta Pusat, sehingga berperan penting dalam
struktur jaringan transportasi perkotaan. Analisis aksesibilitas menunjukkan bahwa
sebagian besar asal dan tujuan perjalanan masyarakat telah terjangkau oleh halte
BRT melalui akses berjalan kaki maupun layanan feeder. Namun demikian, masih
terdapat ketimpangan aksesibilitas pada beberapa wilayah pinggiran Jakarta yang
memiliki jangkauan pelayanan lebih rendah dan tingkat ketergantungan yang lebihiv
tinggi terhadap kendaraan pribadi. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 11,22%
responden yang menggunakan feeder menuju halte, sedangkan 47,56% responden
masih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai halte BRT.
Hasil SEM-PLS menunjukkan bahwa Facilitating Condition berpengaruh positif
dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,352; p = 0,001) serta berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap Disruption Response Perception (? = -0,262; p = 0,013).
Information Perception berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? =
0,291; p = 0,001), Disruption Response Perception (? = 0,295; p = 0,003), dan
Usage Behaviour (? = 0,246; p = 0,008). Selain itu, Performance Expectancy (? =
-0,204; p = 0,006), Effort Expectancy (? = 0,173; p = 0,033), dan Perceived Value
of Time (? = -0,151; p = 0,028) terbukti berpengaruh signifikan terhadap Anxiety
pengguna. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa model mampu
menjelaskan variasi konstruk Usage Behaviour sebesar 59,7%, Attitude sebesar
54,5%, Anxiety sebesar 50,9%, Future Transit Use sebesar 49,6%, dan Disruption
Response Perception sebesar 44,6%.
Berdasarkan hasil analisis aksesibilitas dan preferensi perjalanan, strategi TDM
yang direkomendasikan meliputi peningkatan konektivitas first-mile dan last-mile
menuju halte BRT, penguatan integrasi layanan feeder, penyediaan informasi
perjalanan secara real-time, peningkatan keandalan dan kenyamanan layanan, serta
penerapan kebijakan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi yang terintegrasi
dengan pengembangan angkutan umum. Strategi tersebut diharapkan dapat
meningkatkan penggunaan BRT Transjakarta, mendorong peralihan moda dari
kendaraan pribadi ke angkutan umum, serta mendukung terwujudnya sistem
transportasi perkotaan yang berkelanjutan di Daerah Khusus Jakarta.
Perpustakaan Digital ITB