digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Proses otomatisasi dalam fotogrametri digital pada intinya dilakukan dengan mengkorelasikan pasangan citra yang saling bertampalan (image matching). Dengan demikian pencocokkan citra (image matching) merupakan kunci utama dalam otomatisasi citra digital. Proses pencocokkan citra tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengukur titik-titik sekawan (conjugate points) antara citra satu dengan citra lainnya pada objek yang sama pada daerah yang saling bertampalan. Pencarian pasangan titik sekawan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan hubungan transformasi affine untuk pendekatan posisi awal (initial position). Kualitas posisi awal tersebut dapat diketahui dengan menerapkan proses perhitungan kuadrat terkecil (least-square) melalui teknik hitung perataan (adjustment). Kualitas kesamaan objek diidentifikasi dengan melihat besarnya pergeseran posisi/piksel pada posisi yang telah ditentukan berdasarkan setiap karakteristik objek. Dalam penelitian ini, dilakukan pengkajian terhadap tiga karakteristik objek yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan proses pencocokkan citra digital. Ketiga karakteristik objek tersebut adalah daerah objek tinggi, daerah objek rendah, dan daerah campuran objek tinggi dan rendah. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penempatan pasangan titik awal pada karakteristik objek daerah objek rendah selalu memberikan kontribusi positif terhadap keberhasilan proses pencocokkan citra digital.