Inisiasi praktik berkelanjutan di industri konstruksi Indonesia mulai dipertimbangkan pada proyek konstruksi bangunan hijau yang belum didukung oleh peraturan spesifik mengenai praktik berkelanjutan, khususnya pada proses pengadaannya. Pengadaan rantai pasok kontruksi yang terdiri dari subkontraktor dan supplier dapat membantu penerapan keberlanjutan sebagian besar organisasi/perusahaan menjalankan proyeknya melalui rantai pasok. Pada penelitian ini akan dibahas tentang bagaimana praktik pengadaan berkelanjutan di Indonesia yang dilihat dari praktik pengadaan rantai pasok yang dilakukan oleh kontraktor yang pernah melaksanakan proyek bangunan hijau. Ketercapaian praktik pengadaan berkelanjutan oleh kontraktor dalam penelitian ini akan dibandingkan dengan ISO 20400 yang merupakan pedoman fleksibel pengadaan berkelanjutan dan praktik terbaik pengadaan berkelanjutan pada proyek Olimpade London 2012. Penelitian dilakukan dengan analisis data kualitatif dengan pendekatan grounded theory berdasarkan data yang didapat melalu wawancara semistruktur yang dilakukan pada 3 kontraktor BUMN besar di Indonesia. Hasil pengolahan dan analisis menunjukkan masing-masing kontraktor memiliki tingkatan penerapan pengadaan berkelanjutan yang sama di mana unsur berkelanjutan dalam praktik pengadaannya masih dalam tahap inisiasi dan sebagian besar perangkat pengadaan dapat mendukung implementasi pengadaan berkelanjutan. Penelitian ini memberikan wawasan komprehensif pertama tentang perbandingan praktik pengadaan berkelanjutan rantai pasok oleh kontraktor Indonesia dengan ISO 20400 dan praktik terbaik pengadaan berkelanjutan serta bagaimana hambatan dan upaya perbaikannya. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai praktik pengadaan berkelanjutan yang tepat untuk perusahaan konstruksi yang terlibat dalam proyek bangunan hijau ataupun proyek berkelanjutan di masa mendatang.
Perpustakaan Digital ITB