Penggunaan teknologi Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) dalam produksi
film, termasuk film sejarah, semakin berkembang. Salah satunya adalah film AI
Sultan Matangaji yang diproduksi oleh PT Curaweda di Museum LOTUS AI
Keraton Kasepuhan Cirebon dengan format triprikh. Penelitian ini menganalisis
cara elemen formal film membentuk struktur film AI Sultan Matangaji serta cara
Gen-AI mengonstruksi representasi sejarah Sultan Matangaji. Penelitian
menggunakan metode close analysis terhadap elemen formal dengan menggunakan
teori film sejarah oleh Rosen (2001) untuk menginterpretasikan implikasi
penggunaan Gen-AI terhadap representasi sejarah serta, teori computer vision dan
fundamental slippage oleh Crawford (2021) untuk mengetahui cara kerja Gen-AI
dalam menhasilkan audio-visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film AI
Sultan Matangaji tetap mengadopsi bahasa sinema konvensional dengan meminjam
elemen formalnya, yaitu mise-en-scène, sinematografi, dan suara, namun elemen
editing sangat terbatas. Selain itu terdapat temuan terbatasnya ilusi pergerakan
kamera dan penggunaan format triptikh yang lebih berfungsi dekoratif.
Representasi sejarah dikonstruksi melalui narasi yang mengacu pada historiografi
lokal, sementara audiovisual yang dihasilkan Gen-AI berupaya mengonstruksi
Sultan Matangaji sebagai figur heroik dan maskulin, namun memunculkan berbagai
anakronisme, kecenderungan colonial gaze, dan terkikisnya cultural specificity.
Temuan ini menunjukkan bahwa Gen-AI tidak menciptakan bahasa sinema baru,
melainkan mereproduksi konvensi formal film melalui produksi citra yang berbeda
yang tidak lagi merujuk pada realitas sehingga membentuk historisitas yang bersifat
hyperreal.
Perpustakaan Digital ITB