digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Wanda Widiyawati [27124018]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Penggunaan teknologi Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) dalam produksi film, termasuk film sejarah, semakin berkembang. Salah satunya adalah film AI Sultan Matangaji yang diproduksi oleh PT Curaweda di Museum LOTUS AI Keraton Kasepuhan Cirebon dengan format triprikh. Penelitian ini menganalisis cara elemen formal film membentuk struktur film AI Sultan Matangaji serta cara Gen-AI mengonstruksi representasi sejarah Sultan Matangaji. Penelitian menggunakan metode close analysis terhadap elemen formal dengan menggunakan teori film sejarah oleh Rosen (2001) untuk menginterpretasikan implikasi penggunaan Gen-AI terhadap representasi sejarah serta, teori computer vision dan fundamental slippage oleh Crawford (2021) untuk mengetahui cara kerja Gen-AI dalam menhasilkan audio-visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film AI Sultan Matangaji tetap mengadopsi bahasa sinema konvensional dengan meminjam elemen formalnya, yaitu mise-en-scène, sinematografi, dan suara, namun elemen editing sangat terbatas. Selain itu terdapat temuan terbatasnya ilusi pergerakan kamera dan penggunaan format triptikh yang lebih berfungsi dekoratif. Representasi sejarah dikonstruksi melalui narasi yang mengacu pada historiografi lokal, sementara audiovisual yang dihasilkan Gen-AI berupaya mengonstruksi Sultan Matangaji sebagai figur heroik dan maskulin, namun memunculkan berbagai anakronisme, kecenderungan colonial gaze, dan terkikisnya cultural specificity. Temuan ini menunjukkan bahwa Gen-AI tidak menciptakan bahasa sinema baru, melainkan mereproduksi konvensi formal film melalui produksi citra yang berbeda yang tidak lagi merujuk pada realitas sehingga membentuk historisitas yang bersifat hyperreal.