digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Anomalous Hall conductivity (AHC) umumnya diasosiasikan dengan sistem feromagnetik yang memiliki magnetisasi remanen besar sehingga efek Hall dapat muncul walaupun tanpa pemberian medan magnetik eksternal. Namun, pemahaman AHC berbasis kurvatur Berry pada material topological semimetal (TSM) menunjukkan bahwa sistem antiferomagnetik (AFM) juga dapat memiliki nilai AHC yang signifikan walaupun hampir tidak memiliki magnetisasi remanen. Fenomena ini diamati pada material TSM AFM non-collinear Mn3Sn dan TSM AFM collinear GdPtBi. Secara khusus, keberadaan AHC pada material Mn3Sn telah diamati secara eksperimen dengan nilai yang berkorelasi terhadap perubahan struktur magnetiknya. Namun, berbagai studi terkait struktur magnetik Mn3Sn masih menunjukkan hasil yang beragam dalam hal kestabilan konfigurasi magnetik, sehingga diperlukan kajian sistematik untuk memperoleh validasi terhadap konfigurasi yang telah dilaporkan. Di sisi lain, fenomena perubahan AHC pada variasi struktur magnetik GdPtBi belum pernah dilaporkan. Hal tersebut menjadi dasar motivasi dalam penelitian ini untuk mempelajari struktur magnetik Mn3Sn dan GdPtBi serta kemungkinan kontrol AHC pada GdPtBi melalui variasi struktur magnetik AFM. Dalam studi ini, struktur magnetik dipelajari menggunakan pendekatan nilai medan magnetik internal yang dibandingkan dengan hasil eksperimen muon spin relaxation (????SR) dari literatur. Nilai medan magnetik internal dihitung secara numerik berbasis pendekatan medan magnetik dipolar pada posisi henti muon yang diestimasi sebelumnya dengan density functional theory (DFT). Pada Mn3Sn, posisi henti muon diperoleh pada posisi di antara dua konfigurasi segitiga atom Sn. Pada posisi tersebut medan magnetik internal dihitung dalam dua model struktur inverse triangular yaitu pada struktur dengan space group magnetik Pc’mm’ (AFM-1) dan Pcm’m’ (AFM-2) serta masing-masing variasinya terhadap sudut luar bidang (????) untuk menggambarkan struktur commensurate (???? = 90? ) dan incommensurate (???? ? 90? ). Hasil perhitungan medan magnetik internal kedua struktur membentuk pola sinusoidal dengan rentang ekstremum 0,46 T untuk struktur AFM-1 dan 2,7 T untuk AFM-2. Hasil tersebut akan dibandingkan dengan hasil eksperimen dari sampel polikristal. Pada material GdPtBi, penentuan posisi henti muon menunjukkan keberadaan dua kemungkinan posisi dengan konfigurasi oktahedral pada subkisi kosong dari kisi Bravais FCC. Dari kedua kemungkinan posisi, salah satunya memiliki medan magnetik internal yang sesuai dengan literatur. Kecocokan tersebut berada pada konfigurasi AFM dengan momen magnetik Gd berorientasi dengan sudut bidang (????) 30? . Hasil ini konsisten dengan data difraksi neutron yang telah dilaporkan, sehingga memvalidasi AFM dengan ???? = 30? sebagai keadaan dasar GdPtBi. Selanjutnya, efek perubahan struktur magnetik GdPtBi terhadap nilai AHC dipelajari menggunakan analisis struktur pita elektronik berbasis DFT dan formula Kubo berbasis interpolasi Wannier. Analisis struktur pita memperlihatkan adanya persilangan tiga pita di sekitar energi Fermi yang mengindikasikan material ini sebagai triple-point semimetal (TPSM). Variasi orientasi momen AFM dari ???? = 0 ? , 15? , 30? memodifikasi kekuatan spin–orbit coupling (SOC) yang menggeser energi titik triple secara signifikan dari keadaan tak terhuni menuju ke keadaan terhuni. Perhitungan AHC dengan formula Kubo menunjukkan bahwa hal ini berimplikasi langsung pada perubahan transpor AHC dengan perbedaan nilai mencapai 75,06 ??¹cm?¹. Hasil tersebut menunjukkan struktur pita berperan langsung terhadap AHC sehingga pengaturan struktur magnetik dapat digunakan sebagai mekanisme untuk meningkatkan performa AHC.