digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

SYAEHUL ISLAM
PUBLIC Open In Flipbook Latifa Noor

SYAEHUL ISLAM
EMBARGO  2029-08-14 

SYAEHUL ISLAM
EMBARGO  2029-08-14 

SYAEHUL ISLAM
EMBARGO  2029-08-14 

SYAEHUL ISLAM
EMBARGO  2029-08-14 

SYAEHUL ISLAM
EMBARGO  2029-08-14 

SYAEHUL ISLAM
EMBARGO  2029-08-14 

SYAEHUL ISLAM
PUBLIC Open In Flipbook Latifa Noor

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai oleh kondisi hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Peningkatan prevalensi diabetes secara global serta tingginya jumlah kasus di Indonesia menunjukkan urgensi pengembangan agen antidiabetes yang lebih efektif dan aman. Salah satu pendekatan dalam pengendalian hiperglikemia, khususnya setelah makan, adalah melalui inhibisi enzim ?-glukosidase yang berperan dalam hidrolisis karbohidrat menjadi glukosa. Namun, penggunaan inhibitor ?-glukosidase komersial sering dikaitkan dengan efek samping gastrointestinal, sehingga mendorong pencarian alternatif yang lebih aman dari sumber bahan alam. Dalam hal ini, produk alami menjadi sumber yang menjanjikan karena keragaman struktur kimianya memungkinkan berbagai aktivitas biologis. Salah satu tumbuhan yang berpotensi adalah genus Dehaasia dari famili Lauraceae. Beberapa spesies Dehaasia telah dilaporkan mengandung alkaloid, seperti kelompok benzilisokuinolin, bisbenzilisokuinolin, aporfin, bisaporfin, fenantren, dan morfinan, yang diketahui menunjukkan aktivitas sitotoksik, antiplasmodial, antibakteri, dan antioksidan. Salah satu spesies yaitu Dehaasia caesia tersebar di Sumatera, Indonesia. Kayu D. caesia telah dimanfaatkan sebagai bahan bangunan serta daunnya digunakan secara tradisional untuk mengobati infeksi mikroba dan bisul. Meskipun demikian, kajian fitokimia terhadap spesies ini masih terbatas. Oleh karena itu, maka penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan melakukan karakterisasi metabolit sekunder dari kayu batang Dehaasia caesia serta mengevaluasi aktivitas antidiabetesnya melalui uji inhibisi enzim ?-glukosidase. Dalam penelitian ini, kayu batang D. caesia diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut aseton. Ekstrak aseton diuapkan pelarutnya menggunakan rotary evaporator, dan ekstrak pekat aseton kemudian dipisahkan dan dimurnikan melalui kromatografi cair vakum (KCV), kromatografi kolom gravitasi (KKG), dan kromatografi radial (KR). Senyawa hasil isolasi selanjutnya diuji kemurniannya menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan tiga eluen yang berbeda. Struktur senyawa ditentukan berdasarkan data spektroskopi, yang meliputi data 1D-NMR dan 2D-NMR serta pengukuran putaran optik dan circular dichroism (CD) untuk penentuan streokimia. Aktivitas antidiabetes dari ekstrak aseton dan senyawa hasil isolasi selanjutnya dievaluasi secara in vitro melalui inhibisi enzim ?-glukosidase. Pada penelitian ini dua senyawa berhasil diisolasi, yaitu turunan neolignan yaitu 7R,8R-licarin A (55) dan turunan lignan yaitu meso-asam dihidroguaiaretat (56). Meskipun kedua senyawa tersebut telah dilaporkan dari berbagai spesies anggota famili Lauraceae, Myristicaceae, Aristolochiaceae, dan Zygophyllaceae, tetapi penelitian ini merupakan laporan pertama keberadaan kedua senyawa tersebut pada kayu batang Dehaasia caesia Indonesia. Aktivitas antidiabetes dievaluasi menggunakan uji inhibisi enzim ?-glukosidase. Senyawa meso-asam dihidroguaiaretat (56) menunjukkan aktivitas penghambatan yang lebih kuat dibandingkan 7R,8R-licarin A (55), dengan nilai IC?? terhadap enzim maltase dan sukrase masing-masing sebesar 230,44 ?M dan 463,66 ?M, sedangkan 7R,8R-licarin A (55) menunjukkan nilai IC?? masing-masing sebesar 388,39 ?M dan 507,54 ?M. Penelitian ini merupakan laporan pertama mengenai aktivitas inhibisi ?-glukosidase dari kedua senyawa tersebut.