Fotogrametri bawah air telah menjadi salah satu teknik penting untuk menghasilkan
model tiga dimensi (3D) yang detail dari objek terendam. Namun, pembentukan
citra bawah air dipengaruhi oleh proyeksi optik multimedia yang disebabkan oleh
refraksi cahaya saat melewati air, kaca housing, dan udara, sehingga menimbulkan
distorsi nonlinier yang dapat menurunkan akurasi rekonstruksi. Penelitian ini
mengevaluasi pengaruh parameterisasi model kamera yang berbeda terhadap
akurasi geometrik rekonstruksi fotogrametri bawah air serta mengkaji
penerapannya untuk dokumentasi warisan budaya bawah air. Penelitian dilakukan
menggunakan rangka ADCP sebagai objek terkendali (controlled object) dan
bangkai kapal Poso sebagai studi kasus. Data referensi diperoleh menggunakan
ETS dan TLS, sedangkan citra bawah air diakuisisi menggunakan ROV. Tiga
model kamera dievaluasi, yaitu 1RD, 2RD, dan 3RD. Akurasi geometrik dinilai
melalui perbandingan titik kontrol, transformasi konformal, registrasi ICP, serta
perbandingan awan titik menggunakan metode M3C2. Seluruh pendekatan
rekonstruksi mampu mencapai kesesuaian geometrik pada tingkat sentimeter
terhadap dataset referensi. Model 3RD menghasilkan nilai RMSE titik kontrol
terendah sebesar 0,019 m, diikuti oleh model 2RD sebesar 0,021 m dan model 1RD
sebesar 0,025 m. Setelah registrasi ICP, analisis M3C2 menghasilkan nilai RMSE
sebesar 0,010 m untuk model 3RD dan 0,011 m untuk model 1RD maupun 2RD.
Penerapan metode pada bangkai kapal Poso menunjukkan bahwa fotogrametri
bawah air mampu menyediakan informasi geometrik objek yang lebih rinci dan
melengkapi hasil pengamatan MBES. Registrasi antara hasil rekonstruksi
fotogrametri dan dataset MBES menghasilkan nilai RMSE sebesar 0,114 m. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penambahan parameter distorsi dapat
meningkatkan konsistensi geometrik rekonstruksi serta menegaskan bahwa
fotogrametri bawah air merupakan teknik pelengkap yang efektif untuk
dokumentasi warisan budaya bawah air.
Perpustakaan Digital ITB