digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Fotogrametri bawah air telah menjadi salah satu teknik penting untuk menghasilkan model tiga dimensi (3D) yang detail dari objek terendam. Namun, pembentukan citra bawah air dipengaruhi oleh proyeksi optik multimedia yang disebabkan oleh refraksi cahaya saat melewati air, kaca housing, dan udara, sehingga menimbulkan distorsi nonlinier yang dapat menurunkan akurasi rekonstruksi. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh parameterisasi model kamera yang berbeda terhadap akurasi geometrik rekonstruksi fotogrametri bawah air serta mengkaji penerapannya untuk dokumentasi warisan budaya bawah air. Penelitian dilakukan menggunakan rangka ADCP sebagai objek terkendali (controlled object) dan bangkai kapal Poso sebagai studi kasus. Data referensi diperoleh menggunakan ETS dan TLS, sedangkan citra bawah air diakuisisi menggunakan ROV. Tiga model kamera dievaluasi, yaitu 1RD, 2RD, dan 3RD. Akurasi geometrik dinilai melalui perbandingan titik kontrol, transformasi konformal, registrasi ICP, serta perbandingan awan titik menggunakan metode M3C2. Seluruh pendekatan rekonstruksi mampu mencapai kesesuaian geometrik pada tingkat sentimeter terhadap dataset referensi. Model 3RD menghasilkan nilai RMSE titik kontrol terendah sebesar 0,019 m, diikuti oleh model 2RD sebesar 0,021 m dan model 1RD sebesar 0,025 m. Setelah registrasi ICP, analisis M3C2 menghasilkan nilai RMSE sebesar 0,010 m untuk model 3RD dan 0,011 m untuk model 1RD maupun 2RD. Penerapan metode pada bangkai kapal Poso menunjukkan bahwa fotogrametri bawah air mampu menyediakan informasi geometrik objek yang lebih rinci dan melengkapi hasil pengamatan MBES. Registrasi antara hasil rekonstruksi fotogrametri dan dataset MBES menghasilkan nilai RMSE sebesar 0,114 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan parameter distorsi dapat meningkatkan konsistensi geometrik rekonstruksi serta menegaskan bahwa fotogrametri bawah air merupakan teknik pelengkap yang efektif untuk dokumentasi warisan budaya bawah air.