digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri rokok kretek di Kudus, Jawa Tengah, menempati posisi paradoksal dalam lanskap sosial-ekonomi Indonesia. Industri tersebut menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus objek kritik atas dampak kesehatan dan praktik kapitalisme. Paradoks tersebut membentuk konstruksi simbolik yang kaya dan membuka ruang bagi fashion sebagai medium kritik dan refleksi sosial. Penelitian ini bertujuan menginterpretasikan industri rokok kretek beserta aktor-aktornya, yang disederhanakan menjadi petani, buruh, korporasi, dan konsumen, ke dalam sebuah koleksi busana avant-garde yang berbasis eksplorasi material, siluet, struktur busana, dan reka latar. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur sejarah industri kretek, budaya merokok, teori dasar seni rupa, sejarah avant-garde, serta teori fashion sebagai komunikasi, yang diperkuat dengan kuesioner persepsi masyarakat terhadap tanggung jawab sosial dan kesehatan dalam rantai industri rokok. Data tersebut menjadi landasan konseptual sekaligus pijakan proses perancangan koleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aktor memiliki karakter visual yang distingtif. Petani dan buruh direpresentasikan melalui kesan kerja, rutinitas, dan keterikatan terhadap sistem produksi; korporasi diwujudkan melalui visual yang merefleksikan kontrol, kuasa, dan kemewahan sebagai kritik terhadap kapitalisme; sementara konsumen digambarkan dalam kondisi ambivalen antara kenyamanan dan penghancuran diri. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan konteks industri lokal dengan pendekatan avant-garde yang menempatkan busana sebagai wacana kritis, bukan sekadar representasi estetika. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi perancang dan akademisi yang tertarik pada desain kritis berbasis isu sosial-budaya lokal.