Industri rokok kretek di Kudus, Jawa Tengah, menempati posisi paradoksal dalam
lanskap sosial-ekonomi Indonesia. Industri tersebut menjadi motor penggerak
ekonomi lokal sekaligus objek kritik atas dampak kesehatan dan praktik
kapitalisme. Paradoks tersebut membentuk konstruksi simbolik yang kaya dan
membuka ruang bagi fashion sebagai medium kritik dan refleksi sosial. Penelitian
ini bertujuan menginterpretasikan industri rokok kretek beserta aktor-aktornya,
yang disederhanakan menjadi petani, buruh, korporasi, dan konsumen, ke dalam
sebuah koleksi busana avant-garde yang berbasis eksplorasi material, siluet,
struktur busana, dan reka latar.
Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis. Pengumpulan data
dilakukan melalui studi literatur sejarah industri kretek, budaya merokok, teori
dasar seni rupa, sejarah avant-garde, serta teori fashion sebagai komunikasi, yang
diperkuat dengan kuesioner persepsi masyarakat terhadap tanggung jawab sosial
dan kesehatan dalam rantai industri rokok. Data tersebut menjadi landasan
konseptual sekaligus pijakan proses perancangan koleksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aktor memiliki karakter visual yang
distingtif. Petani dan buruh direpresentasikan melalui kesan kerja, rutinitas, dan
keterikatan terhadap sistem produksi; korporasi diwujudkan melalui visual yang
merefleksikan kontrol, kuasa, dan kemewahan sebagai kritik terhadap kapitalisme;
sementara konsumen digambarkan dalam kondisi ambivalen antara kenyamanan
dan penghancuran diri. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan
konteks industri lokal dengan pendekatan avant-garde yang menempatkan busana
sebagai wacana kritis, bukan sekadar representasi estetika. Penelitian ini
diharapkan menjadi referensi bagi perancang dan akademisi yang tertarik pada
desain kritis berbasis isu sosial-budaya lokal.
Perpustakaan Digital ITB