digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pasir besi pantai berpotensi menjadi sumber titanium dan vanadium, komoditaspenting dalam rantai pasok mineral kritis dan strategis untuk baja berkekuatantinggi, material maju, dan teknologi energi. Namun,pemetaan pasir besi berasosiasiTi–V masih terkendala perbedaan resolusi spasial dan pencampuran spektral antaracitra UAV dan satelit. Penelitian ini mengevaluasiintegrasi geokimia, mineralogi,spektroskopi, citra UAV multispektral, dan PlanetScope SuperDove untukpemetaan prospek pasir besi multiskala di Gua Manikdan Jeruk Tengah, pesisirutara Jawa. Sampel dianalisis menggunakan XRF, XRD,mineragrafi, dan ASDFieldSpec, sedangkan citra diklasifikasikan denganSpectral Angle MapperdanMaximum Likelihood berdasarkan kelas Iron Sand, Brown Sand, dan Shell. HasilXRF menunjukkan kadar maksimum Fe?O? 37,40%, TiO? 4,09%, dan V?O? 0,23%.XRD dan mineragrafi mengidentifikasi magnetit, hematit, dan ilmenit, termasuklamela ilmenit dalam magnetit yang menunjukkan eksolusi dari larutan padattitanomagnetit. Korelasi positif TiO? dan V?O? dengan mineral besi mendukungpenggunaan Iron Sand sebagai indikator tidak langsung prospek Ti–V. SpectralAngle Mapper pada ambang 0,12 radian menghasilkan overall accuracy 92,88%dan Kappa 0,83 pada ketinggian terbang 10 m, kemudian menurun menjadi 85,61%dan 0,67 pada 20 m. Setelah citra UAV ketinggian 80m diagregasi menuju resolusiPlanetScope, akurasi turun menjadi 31,05% dengan Kappa 0,12. MaximumLikelihood menghasilkan akurasi 55,25% pada 10 m dan 44,81% pada 80 m, sertamengalamiclass collapsesetelah agregasi. Hasil ini menunjukkan bahwa UAVefektif untuk pemetaan lokal pasir besi berasosiasiTi–V, sedangkan PlanetScopelebih tepat untuk penapisan regional yang tetap memerlukan validasi geokimia danmineralogi. Pendekatan ini memperkuat kerangka eksplorasi awal mineral pesisir.