digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

UP Speaking Learning Centre (UP SLC) merupakan sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris yang berkembang pesat di wilayah semi-perkotaan, di mana kebutuhan terhadap pengalaman belajar bahasa yang fleksibel dan terjangkau semakin meningkat. Seiring bertambahnya peluang ekspansi, organisasi menghadapi tantangan strategis yang umum dialami penyedia layanan pendidikan di pasar berkembang: bagaimana memperluas jangkauan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas layanan, efisiensi operasional, dan keselarasan dengan kebutuhan para pemangku kepentingan. Pembukaan cabang konvensional membutuhkan investasi modal yang besar, periode pengembalian yang panjang, serta struktur operasional yang kompleks, sehingga tidak selalu mampu mendukung pertumbuhan yang cepat. Pada saat yang sama, peserta didik, tutor, dan mitra usaha mengharapkan lingkungan belajar yang lebih mudah diakses, menarik, dan terintegrasi dengan komunitas. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan persoalan ilmiah dan manajerial yang perlu dikaji secara sistematis: bagaimana mengidentifikasi strategi model bisnis alternatif dan kerangka operasional yang memungkinkan ekspansi regional secara berkelanjutan tanpa mengulangi keterbatasan model cabang tradisional. Berdasarkan isu tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi, merancang, dan mengevaluasi sebuah inovasi model bisnis bagi UP SLC melalui pendekatan terpadu antara design thinking, wawasan kualitatif, serta prototyping tahap awal. Penelitian ini mengikuti empat tahapan utama. Tahap pertama menggali kebutuhan, keterbatasan, dan aspirasi pemangku kepentingan melalui pendekatan empati, sehingga memungkinkan penelitian menyusun proposisi awal mengenai model nilai yang relevan bagi pasar semi-perkotaan. Tahap kedua menerapkan proses ideasi dan eksplorasi model bisnis untuk menghasilkan alternatif strategi, yang kemudian mengarah pada identifikasi model micro-hub berbasis kafe sebagai konfigurasi yang menjanjikan untuk ekspansi yang dapat diskalakan. Tahap ketiga mengembangkan kerangka operasional yang selaras dengan model tersebut, meliputi alur administrasi, mekanisme kemitraan, adaptasi pengajaran, kesiapan tutor, dan proses digital. Tahap keempat mengevaluasi kelayakan, ketertarikan, dan keberlanjutan model melalui pengujian di lingkungan nyata, penilaian survei, wawancara, serta siklus penyempurnaan. Fondasi metodologis penelitian ini menggabungkan design thinking, logika inovasi model bisnis, serta evaluasi berpusat pada pengguna. Asumsi yang mendasari penelitian mencakup ekspektasi bahwa model pembelajaran berbasis komunitas dapat mengurangi kebutuhan modal, meningkatkan fleksibilitas, dan memperkuat keterlibatan pengguna dibandingkan cabang tradisional. Proposisi yang dirumuskan selama proses eksplorasi menunjukkan bahwa kesiapan operasional, keandalan digital, konsistensi pedagogis, dan keselarasan pemangku kepentingan merupakan faktor penentu keberhasilan adopsi. Proposisi-proposisi ini diuji melalui data kualitatif, pemodelan alur BPMN, pengujian prototipe, serta instrumen evaluasi multi-dimensi. Desain penelitian yang iteratif memungkinkan temuan yang lebih akurat karena mencerminkan pengalaman pengguna secara nyata, bukan sekadar asumsi teoretis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model micro-hub berbasis kafe merupakan pilihan strategis yang layak dan mendukung ekspansi regional. Temuan memperlihatkan tingginya ketertarikan pengguna terhadap lingkungan belajar yang fleksibel dan menyenangkan, kelayakan operasional yang solid, serta indikator keberlanjutan yang positif berkat kebutuhan modal yang rendah dan mekanisme kemitraan yang adaptif. Pengujian operasional juga menyoroti pentingnya desain pengajaran yang terstruktur, alur administrasi yang andal, serta sistem digital yang memadai. Para pemangku kepentingan mengidentifikasi sejumlah kebutuhan termasuk kejelasan komunikasi, koordinasi yang lebih kuat, serta sistem digital yang lebih stabil yang kemudian diintegrasikan dalam refined solution, mencakup penyempurnaan model instruksional, proses operasional, struktur finansial, dan mekanisme dukungan organisasi. Penyempurnaan ini memperkuat dimensi fungsional dan strategis model, memastikan bahwa pendekatan ini tidak hanya inovatif tetapi juga dapat diterapkan dan diskalakan. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyajian pendekatan terpadu untuk ekspansi layanan pendidikan yang menggabungkan inovasi model bisnis dengan prototyping operasional serta pengujian berpusat pada pengguna. Penelitian ini menawarkan kerangka yang dapat direplikasi bagi institusi yang ingin berkembang di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya, dan menunjukkan bagaimana model berbasis komunitas dan kemitraan dapat meningkatkan keberlanjutan, aksesibilitas, dan kualitas layanan. Studi ini juga memperkaya wacana akademis dengan mengilustrasikan bagaimana design thinking dapat diterapkan secara sistematis dalam menghadapi tantangan pertumbuhan strategis di sektor pendidikan. Temuan ini memberikan arahan praktis bagi UP SLC dalam mempersiapkan implementasi regional, sekaligus menyediakan landasan bagi penelitian lanjutan mengenai kinerja jangka panjang, integrasi digital, dan skalabilitas lintas pasar dari model pembelajaran hybrid.