digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Jumlah sekolah Islam swasta yang terus meningkat di Indonesia telah memperketat persaingan dan membuat pemilihan sekolah oleh orang tua menjadi semakin kompleks. Sekolah terintegrasi menghadapi tantangan yang lebih besar ketika transisi internal antarjenjang melemah, karena kesinambungan pendidikan lintas jenjang merupakan inti dari model pendidikan dan kelembagaan mereka. Yayasan Baiturrahman Daarul Fikri di Tasikmalaya mengalami tingkat transisi yang secara konsisten rendah dari sekolah dasar (SD) ke sekolah menengah pertama (SMP). Kondisi ini mengancam keberlanjutan institusi karena melemahkan model pendidikan terintegrasi secara vertikal dan meningkatkan ketergantungan pada perekrutan siswa baru. Penelitian ini mengkaji switching intention orang tua pada tahap transisi SD–SMP dengan menggunakan kerangka Push–Pull–Mooring (PPM). Faktor push mencerminkan ketidakpuasan terhadap institusi saat ini, faktor pull merepresentasikan daya tarik sekolah alternatif, sedangkan faktor mooring menggambarkan biaya perpindahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 134 orang tua siswa kelas enam di SD Baiturrahman. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur berskala Likert yang dikembangkan dari literatur sebelumnya dan disempurnakan melalui uji coba (pilot test). Analisis data dilakukan menggunakan metode PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor push dan pull berhubungan signifikan dengan switching intention orang tua, sementara faktor mooring tidak menunjukkan hubungan langsung, tetapi berperan sebagai variabel moderasi yang melemahkan pengaruh faktor push dan pull. Temuan ini menunjukkan bahwa switching intention orang tua muncul dari kombinasi ketidakpuasan, daya tarik eksternal, dan hambatan perpindahan yang dirasakan. Berdasarkan hasil tersebut, solusi bisnis dirumuskan menggunakan Matriks TOWS untuk mendukung retensi siswa internal dan memperkuat keberlanjutan model pendidikan terintegrasi Baiturrahman. Penelitian ini berkontribusi pada penerapan teori switching intention dalam konteks pendidikan dan memberikan implikasi praktis bagi pengelolaan transisi internal di sekolah Islam terpadu.