Indigenous entrepreneurship dapat dilihat sebagai proses menciptakan, mengelola, dan mengembangkan usaha sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh indigenous people untuk tujuan ekonomi dan non-ekonomi. Sedangkan, indigenous people adalah individu atau kelompok yang menganggap dirinya bagian dari suatu kelompok etnik tertentu dan berbeda dengan masyarakat umumnya karena sejarah, nilai, dan bahasa. Meskipun terdapat berbagai jenis kewirausahaan, inovasi merupakan syarat penting kewirausahaan. Inovasi dikaitkan dengan fitur perkotaan, karena inovasi dianggap membutuhkan fasilitas perkotaan, teknologi, sumber daya manusia yang kreatif dan berpendidikan. Berdasarkan hal tersebut, inovasi menjadi tantangan bagi indigenous entrepreneurship yang selalu dikaitkan dengan keterisolasian dan rendahnya kapasitas sumber daya manusia. Pada sisi lain, terdapat penelitian yang menunjukan bahwa Suku Maori melakukan inovasi sehingga inovasi bukan hal yang mustahil bagi indigenous entrepreneurship.
Dalam memahami inovasi pada indigenous entrepreneurship perlu menempatkan kegiatan kewirausahaan sebagai fenomena sosio-spasial yang melibatkan konteks lokal yang tertanam seperti nilai budaya. Pemahaman mengenai inovasi pada konteks indigenous entrepreneurship menjadi sangat penting mengingat fenomena ini berkembang di Indonesia. Dengan memahami bagaimana inovasi dapat didorong atau terhampat pada indigenous entrepreneurship dapat membantu menemukenali bagaimana kegiatan kewirausahaan ini menjadi mesin pertumbuhan wilayah. Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi mekanisme terjadinya inovasi pada kegiatan indigenous entrepreneurship. Untuk dapat mengeidentifikasi hal tersebut, peneliti menggunakan pendekatan studi kasus. Untuk mencapai tujuan tersebut, dipilih dua kasus kegiatan usaha tenun di Desa Pringgasela dan Desa Sukarara. Dua kasus ini dianggap dapat mewakili fenomena indigenous entrepreneurship di Indonesia karena kegiatan yang berkembang dilakukan oleh Suku Sasak dan produk yang dihasilkan merupakan produk dari praktik budaya Suku Sasak. Dengan dipilihnya kasus tersebut, penelitian ini dapat memberi pelajaran bagaimana perbedaan konteks spesifik wilayah, seperti aksesibilitas dan lokasi suatu wilayah dapat menunjukan nilai-nilai budaya yang berbeda namun tetap berpengaruh terhadap inovasi.
Untuk dapat mengidentifikasi mekanisme inovasi, pertama penelitian ini mengidentifikasi bentuk-bentuk inovasi yang terjadi di masing-masing desa, kemudian mengidentifikasi nilai budaya yang tercermin di dalam implementasi inovasi. Nilai budaya tersebut dilihat dari tiga orientasi utama, yaitu orientasi hubungan antara sesama manusia, orientasi waktu, dan motivasi dan keinginan dalam hidup. Kemudian, dari nilai-nilai yang telah didapatkan berdasarkan tiga orientasi tersebut, peneliti akan menunjukan sejauh apa nilai-nilai budaya yang sudah didapatkan menentukan mekanisme akumulasi pengetahuan yang mendorong inovasi. Untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan peneliti mengumpulkan data primer melalui wawancara mendalam semi terstruktur kepada partisipan yang dipilih melalui purposive sampling dan snowball sampling. Kemudian, analisis dilakukan dengan teknik komparasi konstan, pattern matching dan explanation building.
Penelitian ini mendapatkan bahwa nilai budaya sebagai konteks lokal menentukan terjadinya inovasi. Masing-masing daerah memiliki nilai-nilai budaya yang berbeda serta kontribusi yang berbeda juga terhadap inovasi. Penelitian ini mendapatkan bahwa terdapat nilai-nilai yang dapat mendorong terjadinya inovasi serta terdapat nilai-nilai yang dapat menghambat terjadinya inovasi pada indigenous entrepreneurship. Nilai-nilai yang mencerminkan kecenderungan tingginya integeritas antar aktor, mencerminkan orientasi masa kini dan masa depan, serta mencerminkan otonomi dapat mendorong pembelajaran baik individu dan kolektif di dalam akumulasi pengetahuan yang menghasilkan inovasi. Sementara itu, nilai-nilai budaya yang mencerminkan tingginya orientasi jangka pendek terutama masa lalu, dan tingginya embeddedness dan batasan dapat menghambat inovasi karena nilai-nilai tersebut membatasi fleksibilitas pelaku usaha dalam mempelajari pengetahuan baru serta membatasi pergerakan pelaku usaha baik dalam penyebaran pengetahuan atau informasi baru maupun dalam implementasi inovasi.
Penelitian ini memberikan wawasan bahwa konteks lokal tidak bisa diabaikan dalam memahami baik fenomena kewirausahaan dan inovasi terutama pada kasus indigenous entrepreneurship. Selain itu, hasil penelitan ini dapat menjadi dasar bahwa kewirausahaan dapat menjadi instrumen untuk pendorong ekonomi di daerah tertingal yang berada pada negara berkembang meskipun masih banyak tantangan dalam pengembangan inovasi pada kegiatan indigenous entrepreneurship.
Perpustakaan Digital ITB